Kamis, 11 Juli 2013

Kopi Lelet, Pesona Balutan Kopi Dalam Sebatang Rokok


Kopi Lelet (ceriwis Forum)

Mengawali adanya teman saya yang selalu nitip kopi Lasem (Kopi Lelet) setiap aku pulang kampung, serta adanya dari dosen untuk membuat makalah tentang apa saja yang khas dari daerah masing-masing salah satunya kuliner membuat saya mau tak mau harus memutar otak sana sini berfikir keras tentang apa saja yang khas dari daerahku, terbesit dalam pikiranku secangkir kopi yang saya rasa tak kalah dengan kopi yang di jual di café-café terkenal, namun kopi yang ini tidak hanya diminum tapi juga dihisap? Maksudnya?? hehe jawabannya adalah Kopi Lelet khas Rembang.
Kopi Lelet sudah sangat terkenal di seantero Rembang bahkan sudah beberapa kali masuk dalam acara kuliner TV swasta nasional ya boleh di bilang reputasinya sudah nasional. Menurut penuturan orang-orang Rembang, warung kopi lelet awal mulanya berkembang di daerah pesisir mereka (nelayan) menggunakan waktu luangnya untuk berlama-lama minum kopi sambil bercengkrama ria. Entah siapa yang memulai untuk meleletkan (membalutkan) sisa endapan kopi ke sebatang rokok, yang jelas ini sudah berlangsung puluhan tahun yang lalu, kemungkinan mereka masih ingin tetap merasakan nikmatnya kopi sambil merokok, nah berkembanglah kopi lelet ini hingga sekarang yang justru meyebar ke pelosok-pelosok desa di Kabupaten Rembang.
Bagaimana tahap demi tahap melelet rokok? Kalau anda ke warung kopi anda akan di beri cangkir kecil kopi lelet, jangan Tanya bertahan berapa menit nich kopi, bisa berjam-jam lamanya soalnya setelah kopi habis akan menyisakan cekakik (sisa endapan kopi) nah endapan kopi inilah yang nantinya anda gunakan untuk membatik batang demi batang rokok yang anda bawa, caranya bisa dengan batang korek api yang telah dilancipkan tuang endapan kopi dalam lepek jika kurang kental anda bisa  menambahkan susu kental manis di endapan kopi tadi silahkan anda berkreasi membatik rokok sesuai keinginan anda setelah selesai tunggu dulu sampai kering di pada sebuah tenpat khusus yang sudah disediakan. Ini bisa memakan waktu hingga berjam-jam. Setelah kering rokokpun siap di hisap dengan rasa kopi yang telah di balutkan tadi.
Menjadi Sebuah Ironi
Jaman telah berubah, kebiasaan minum kopi yang dulu di dominasi oleh orang-orang tua kini justru anak-anak muda menjadikan aktifitas ngelelet kopi menjadi kegiatan tergaul pemuda desa, kalau dulu penjualnya adalah ibu-ibu atau bapak-bapak sekarang yang paling laris adalah penjual muda yang kebanyakan adalah perempuan berdandan ya kalau saya boleh bilang menor dan sexy jam bukanya pun dari pagi sampai tengah malam sekitar jam 23.00 WIB bahkan lebih letak warungpun biasanya agak jauh dari pusat desa, kesempatan inilah yang digunakan oleh para pemilik warung nakal untuk menjadikan warungnya menjadi tempat “plus” di warung ini juga bisa berkaraoke ria bersama PK (pemandu kopi) dengan hetakan musik dangdut koplo. Pada awal 2012 lalu pemkab Rembang merazia semua warung kopi yang memperkerjakan perempuan di bawah umur yang kebanyakan berasal dari luar Rembang. Kata teman saya yang sering ke warung kopi seperti ini secangir kopi bahkan bisa seharga Rp.50.000,- lebih jika menggunakan “jasa” pelayan warung kopi. Bahkan saya sangat sering melihat aktifitas tak wajar ini jika malam hari saya melintas di salah satu warung kopi. Semoga kopi lelet tetap menjadi icon Rembang yang jauh dari kesan negatif. Semoga.

2 komentar:

  1. alamat.. di rembang. yang jual Kopi lelet dmn?

    BalasHapus
  2. Banyak bro. ....sudut2 warung lasem & pamotan bnyk yg jual. ...lgsung saja kunjungi kota itu.. ..

    BalasHapus