Wednesday, 4 April 2012

Mengapa Dampo Awang Menjadi Bala Suporter PSIR Rembang?


Dampo Awang Tokoh Negatif Yang Digunakan PSIR Sebagai Julukan Untuk Bala Suporternya (Laskar Dampo Awang)

Siapakah Dampo Awang Itu, dan Pandangan Orang Rembang Terhadapnya?
            Menurut cerita turun temurun masyarakat Rembang Dampo Awang Adalah tokoh yang antagonis yang melawan dan memusuhi Sunan Bonang. Dalam cerita asal-usul Kota Rembang Dampo Awang adalah seorang saudagar kaya dari Dinasti Ming Cina, ia awalnya adalah hanya bermaksud berlayar dan singgah sementara di Lasem namun setelah mencoba untuk berdagang di Lasem ia menjadi lebih kaya dan menjadi sangat sombong bahkan saat Sunan Bonang menerima aduan masyarakat tentang dirinya (Dampo Awang) Sunan Bonang bermaksud untuk menasehati Dampo Awang  namun justru Dampo Awang malah tersinggung dan menantang Sunan Bonang beserta santrinya untuk melawan Dampo Awang dan pasukannya di pantai Bonang Lasem, karena memang Letak dari Pondok Pesantren Sunan Bonang konon terletak di Bukit yang kini di sebut Bukit Bonang, kemenangan memang akan selalu berpihak pada yang benar walaupun Sunan Bonang dengan membawa santri yang minim kemampuan perang, Sunan Bonang dan santrinya berhasil memporak-porandakan Dampo Awang dan pasukannya bahkan kapal besar Dampo Awang hancur berkeping-keping jangkarnya terlempar hingga Pantai Kartini Rembang hingga kini jangkar yang dipercayai sebagai jangkar Dampo Awang masih tersimpan apik di Taman Rekreasi Pantai Kartini Rembang (Dampo Awang Beach).
Untuk Lebih Jelasnya tentang tokoh Dampo Awang Silahkan baca http://priyatmaja.blogspot.com/2011/08/asal-usul-kabupaten-rembang.html 

            Nah mengapa para suporter Persatuan Sepak Bola Indonesia Rembang (PSIR) yang dengan warna oranye sebagai warna kebesarannya menggunakan nama Laskarnya dengan sebutan Laskar Dampo Awang? Mengapa tidak Laskar Sunan Bonang, Laskar Eyang Sambu (tokoh Islam di Lasem), Laskar Wong Mbelah, Laskar Demang Waru, atau nama lainnya yang notabene merupakan tokoh dan julukan yang populer dan positif di Rembang. Apa sebenarnya yang bisa mereka teladani dari Sang Dampo Awang apa karena memandang kehebatannya semata? kalau memang masyarakatnya mempercayai tokoh tersebut sebagai tokoh yang negatif. Perlu penyadaran sejarah bagi mereka, ya sebuah perenungan seperti saat sekarang yang sedang krisis moral_(S. A Atmadja)
           

Tuesday, 27 March 2012

Pakaian Adat Kudus & Batik Lasem Akulturasi Istimewa


Pakaian Adat Kudus Menyatu Dalam Indahnya Batik Lasem
Sebuah Akulturasi Istimewa
 
Anggunya Seorang Perempuan Kudus Memakai Pakaian Adatnya Lengkap Dengan Caping Kalo


            Kudus sejak dulu dikenal sebagai kota yang sangat khas, keunikan budaya, dan kentalnya agama menjadi kota kudus makin dikenal secara luas, ada beberapa wisata religi yang bisa anda kunjungi di Kota Kretek ini, antara lain Makam Sunan Kudus beserta menara Kudus yang terkemas unik seperti bangunan Mehru di Pura yang ada di Bali hal ini tidaklah mengherankan karena Sunan Kudus Ketika itu bermaksud mengakulturasikan budaya lokal yang saat itu masyarakat Kudus masih beragama Hindu sebelum Majapahit runtuh sekitar abad 15 M selain itu beliau juga melarang Umat Islam di Kudus untuk menyembelih sapi sebagai toleransi terhadap umat Hindu di Kudus saat itu dan berlanjuthingga kini dan Makam Sunan Muria di lereng Gunung Muria dengan suasana khas pegunungan nan asri selain itu juga terdapat air terjun yang cukup indah yaitu Air Terjun Monthel yang masih terletak tidak jauh dari makam Sunan Muria. Kedua makam Walliyullah ini tek pernah sepi dengan kenjungan para peziarah yang datang dari pelosok tanah air.
            Namun dalam tulisan saya kali ini tidak membahas tentang wisata yang ada di Kudus tetapi akan membahas tentang pakaian adat Kudus yang unik lengkap dengan Caping Kalo nya dengan Batik Lasem sebagai jarit (bawahan) dari pakaian adat perempuan Kudus ini.
            Dosen saya Bapak R. Suharso, MP,d. yang juga seorang Kudus dalam sela-sela perkuliahan Sejarah Lokal pernah berkata ”Jika engkau datang ke Kudus maka engkau akan terpesona dan menganggap Kudus sebagai rumah ke-2 mu” dan terbukti saya yang setelah wara-wiri (bepergian_red) ke rumah saudara saya di Jati Kulon, Kudus saya benar benar di buat kagum dengan ke indahan kota, pesatnya perekonomian, dan yang membuat saya lebih kagum lagi adalah melihat seorang perempuan Kudus mengenakan pakaian adatnya, sungguh terlihat sangat cantik nan anggun namun sayang pakaian itu hampir punah dan kini kita bisa melihatnya hanya dalam event-even tertentu saja seperti saat Karnaval Budaya ahir 2011 lalu, kebetulan saya ikut berpartisipasi dalam karnaval itu karena memang bertepatan dengan Praktik Pengalaman Lapangan saya di salah satu SMP Negeri di Kudus.
            Nah pertanyaanya mengapa kudus sampai mempunyai pakaian adat sendiri yang begitu khas dan cenderung lebih tertutup dibanding pakaian adat Jawa? Berikut saya paparkan.
Pakaian Adat Kudus dengan Jarit Batik Lasem
Pakaian Adat Kudus sekilas anda melihatnya pada  busana laki-lakinya tidak beda jauh dari pakaian adat Jawa, memakai blangkon gaya Surakarta, beskap ala Kudusan, kain batik Lasem bermotif tumbuh-tumbuhan dan bunga dengan warna warni yang mencolok sebagai bawahannya (jarit sinjang Laseman), memakai keris model gayaman atau ladrangan dengan sepatu selop hitam. Sedangkan untuk busana perempuannya sungguh sangat unik dan menarik untuk diperhatikan yaitu pemakaian caping kalo (tampah kecil) di atas kepala yang dipasang agak miring ke kiri menutupi sebagian rambut yang di gelung. cukup aneh memang namun justru itu yang membuat saya kagum, baju yang dikenakan memakai baju yang orang Kudus bilang baju kurung bludru yang kebanyakan pakian laki-laki maupun perempuan berwarna biru tua, kemudian selendang lurik  Tohtawu yang di sampirkan dipundak layaknya pakaian adat Melayu yang berwarna gelap pula dan tak ketinggalan aksesoris seperti kalung, gelang dan giwang berwarna emas membuat kesan anggun siapapu yang memakainya serta penggunaan batik Lasem sebagai bawahan menambah manis pakaian adat Kudus ini .
Busana adat Kudus cenderung lebih tertutup dibanding pakaian adat Jawa pada umumnya karena tidak mengherankan Kudus sejak dulu hingga kini dikenal sebagai kota yang Religius. Mengapa kudus mempunyai pakian adat sendiri kemungkinan karena kudus adalah kota yang berdekatan dengan Kesultanan Demak Bintoro pasca Majapahit runtuh ia berusaha memiliki jati dirinya sendiri menyesuaikan pakaian para pembesar-pembesar kesultanan Demak yang berlandaskan azas keIslaman dan 2 diantara 9 Wali Songo berada di wilayah Kudus membuat Kudus menjadi kota religius bahkan sebelum Islam datang berkembang di sana Abad 16 M.
Namun sampai sekarang saya belum menemukan jawaban mengapa batik Lasem digunakan sebagai jarit pakaian adat kudus? Apa sebenarnya hubungan Lasem dan Kudus? Seerat apa hubungannya ketika itu? Temukan jawabannya pada tulisan saya selanjutnya. Trimakasih semoga bermanfaat. Ayo Terus Lestarikan budaya kita!
Coba Perhatikan foto Disamping sungguh sangat cantik dan aggun bukan?, keindahan Batik Lasem akulturasi budaya lokal dan tiong hoa yang tersohor itu sangat istimewa berpadu dengan pakaian adat kudus yang begitu khas warna merah darah (khas Batik Lasem) dengan motif tumbuhan sulur-suluran berwarna warni membuat semakin batik ini semakin manis dan banyak kolektor lokal bahkan mancanegara berebut untuk mengoleksinya. Semoga budaya yang sangat luhur ini terus ada dan anak cucu kita kelak masih bisa melihatnya,bukan hanya melihat mereka juga harus tau sejarah perjalanan pakian adat Kudus ini, nah tugas kita sebagai generasi sekarang untuk mempelajarinya dan menceritakan ke anak cucu kita. (S.A Atmadja)

Wednesday, 14 March 2012

Studi Historis, Lasem Jaman Majapahit (1300-1500 Masehi)

1
GAMBARAN UMUM KOTA LASEM
         
Peta Kabupaten Rembang
          Kota lasem adalah sebuah kota kecamatan yang berada di pinggir jalur pantura, kota ini berada kurang lebih 15 km kearah timur kota kabupaten Rembang Jawa Tengah.Kota Lasem mempunyai jumlah penduduk 40.167 jiwa (sensus penduduk 2000 BPS) dan mempunyai 73 desa/kelurahan.Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa,sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Pancur,sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Sluke dan Kragan,serta sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Rembang Kota.

            Kehidupan warga Lasem cenderung  lebih kondusif ini terbukti dengan berbaurnya antara penduduk pribumi dan etnis keturunan Cina serta berbaurnya tiga agama yaitu Islam,Kristen/Khatolik,dan Budha.Selain masjid Lasem juga terdapat beberapa Gereja,Klenteng,dan Vihara.Sebagian besar penduduk Lasem berprofesi sebagai petani dan nelayan serta pedagang karena dipesisir inilah warga Lasem mencari rejekinya lewat hasil hasil laut bahkan banyak hasil laut dari Lasem yang dikirim ke kota-kota besar bahkan ada yang dikirim ke luar negeri  seperti ikan tongkol,kepiting dan lobster.

            Jika kita pertama kali meginjakkan kaki pertama ke kota Lasem anda pasti akan kagum dengan keindahan serta keunikan bangunan-bangunan tuanya yang sudah berusia ratusan tahun kebanyakan  bernuansa arsitektur khas Cina ada juga yang bernuansa eropa klasik.Tidak salah jika kota Lasem pernah dijuluki ”The Little Beijing Old Town” oleh seorang peneliti eropa zaman kolonial.Bangunan-bangunan tua ini terletak di desa Babagan,Gedong Mulyo,Karang Turi,Soditan,Sumber Girang, dan Ngemplak.Sebagian besar bangunan itu masih terpelihara dengan baik walaupun ada sebagian yang di biarkan terbengkalai.Sejak tahun 1986 Pemkab Kota Rembang menetapkan bangunan-bangunan tersebut sebagai bagunan cagar budaya yang harus di lindungi keberadaannya.Namun sayang kini satu demi satu bangunan-bangunan tua itu harus di bongkar dan di ganti dengan bangunan modern.Selain keindahan kota tuanya Lasem juga mempunyai keunikan lain yaitu Batik Tulis Lasem yang terkenal banyak batik-batik Lasem mempunyai corak dan motif yang khas yaitu adanya gambar naga ini merupakan percampuran budaya antara Jawa dan Tiong Hwa.Pada awal tahun 1950-an jumlah pengrajin batik mencapai ratusan namun sekarang hanya tersisa puluhan saja ini disebabkan oleh adanya krisis ekonomi tahun 1997-1998 silam banyak usaha mereka yang bangkrut karena mahalnya bahan baku sedangkan harga jualnya cenderung lebih rendah.

            Selain dikenal sebagai kota pecinan terbesar se Pulau Jawa lasem juga terkenal sebagai kota santri dan kota ziarah ini terbukti dengan banyak berdirinya pondok pesantern yang cukup terkenal.Penguasa perekonomian di Lasem masih dipegang oleh orang-orang keturunan Cina karena memang dalam sejarahnya mereka menetap di Lasem karena nenek moyang mereka dulunya memang sudagar-saudagar yang ulung dan keahlian tersebut kini diwariskan pada keturunannya hingga kini.Bahkan Kwik Kian Gie mantan menteri perekonomian jaman Mega wati adalah seorang warga keturunan kelahiran Lasem dan sampai sekarang keluarganya mempunyai usaha besar di kota Lasem.Dimata masyarakat kota Lasem lebih terkenal ketimbang Rembang ini wajar karena asal muasal kota Rembang berawal dari kota kecil Lasem.

            Perekembangan kota Lasem tidak lepas dari perhatian Majapahit kala itu yang menjadikan kota ini menjadi salah satu bagian terpentingnya karena selain strategis letaknya di tepi pantai dan pernah pula terdapat salah satu pelabuhan yang cukup penting yaitu pelabuhan Lasem yang kini terletak di desa Babagan dan menjadikan sungai Babagan menjadi salah satu jalur lalulintas untuk menghubungkan kota Lasem ke pelabuhan  dan kini sungai tersebut sudah tidak berfungsi lagi sebagai jalur transportasi karena terjadi pendangkalan sungai dan terahir berfungsi baik pelabuhan maupun sungai Babagan pada masa pendudukan kolonial Belanda.
Gapura Masuk Klenteng Poo An Bio, Desa Karang Turi Lasem

PEMBAHASAN

          Lasem merupakan sebuah kota tua yang yang terdapat di wilayah kabupaten Rembang.terletak di jalur pantai utara,jaraknya sekitar 15 km sebelah timur kota Rembang.
            Keberadaan kota kuno Lasem tidak Terlepas oleh adanya kerajaan Majapahit di masa kejayaannya,Pada waktu pemerintahan Sang prabu Hayam Wuruk ia membentuk Dewan Pertimbangan Agung Yang berjumlah 7 (tujuh) orang.Dewan Pertimbangan Agung ini disebut ”Bathara Sapta Prabu”ketujuh anggota Batara Sapta Prabu ini seluruhnya berasal dari keluarga Hayam Wuruk yang tinggal di berbagai tempat.Mereka adalah:

1.Tribhuana Tungga Dewi: Raja di Majapahit
2.Sri Kerta Wardhana (suami): Raja Singosari
3.Dyah Wyah Rja Dewi (adik): Raja di Dhaha
4.Sri Wijaya Rajasa (Ipar): Raja di Wengker
5.Sri rajasa Nagara (Anak): Raja muda di Kahuripan
6.Bhre Lasem (anak): Raja di Lasem
7.Bhre Pajang (anak): Raja di Pajang

Setelah Bhre Lasem kawin dengan Sri Rajasa Nagara yang menjabat sebagai raja Matahun, dan Bhre Pajang kawin denan Sri Singa Wardhana yang menjabat sebagai  raja paguhan.Maka anggota dewan pertimbangan agung berjumlah menjadi 9 orang.Hal inilah yang memperkuat  suatu pendapat bahwa pada masa pemerintahan Tri Bhuana Tungga Dewi sebagai raja Majapahit ,Lasem sebagai wilayah yang berdaulat terbukti keberadaannya.
Pada perkembangan berikutnya  yaitu tepatnya pada tahun 1354 wilayah Lasem dipercaya sebagai Negara bagian dari Majapahit dengan sebutan Bhre.Jadi Bhre artinya negara bagian.Setelah berstatus sebagai Negara bagian Putri Indu sebagai Bhre Lasem kemudian bergelar PUTRI INDU DEWI PURNAMA WULAN saat itu keadaan wilayah Lasem sangat strategis.Bhre Lasem mempunyai dua pelabuhan besar untuk ukuran masa itu yaitu pelabuhan Pangkalan yang masuk kecamatan Sluke bagian barat, pelabuhan Labuhan masuk wilayah kecamatan Sluke bagian timur, dan pelabuhan Lasem sendiri yang terletak di desa Babagan.ketiga pelabuhan ini banyak didatangi para saudagar dari Cina dan Campa
      Sebagai penguasa kerajaan bagian di Lasem Putri Indu setelah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Raden Wardana.Pada masa pemerintahan raja wardana inilah status Lasem  sebagai Negara bagian atau bhre dari Kerajaan Majapahit diganti statusnya menjadi kadipaten.Degan demikian Raden Wardana bukan lagi sebagai anggota Bathara Sapta Prabu menggantikan ibunya tetapi sudah berubah menjadi seorang adipati pertama yang berkuasa di kadipaten Lasem
      Setelah menjadi seorang adipati sekian tahun lamanya R.Wardana pun meninggal dunia.Kedudukannya sebagai seorang adipati diganti oleh putranya yang bernama Wijaya Badra,selanjutnya adipati Wijaya Badra diganti oleh putranya yang bernama pangeran Badranala.jadi Pangeran Badranala ini adalah adipati ke tiga.Kemudian ia menikah dengan seorang putrid Campa dan di anugrahi dua orang putra yaitu Pangeran Wira Bodro dan Pangeran Santi Bodro
      Selanjutnya Pangern Wira Bodro menggantikan jabatan ayahnya dan ia menjadi adipati yang ke empat dan Pangeran santi Bodro menjadi seorang guru besar dan tokoh agama Hindu di wilayah kadipaten Lasem.Pangeran Wira Bodro menjabat selama sembilan tahun,tepatnya tahun 1496,sang adipati memindahkan pusat pemerintahannya ke tepi laut Binangun.Sedangkan pelabuhan yang dulu di Pangkalan juga dipindah ke teluk Binangun.Pada masa pemerintahan  adati Wiro Bodro penyebaran agama Islam mulai masuk ke ke kadipaten Lasem.Bahkan Panngeran Wiro Bodro pun juga masuk Islam,guna memperdalam agama Islam ia menmanggil seorang mubaligh perempuan yang merupakan putrid sunan Ampel yang bernama Nyai ageng Maloka.Kebarangkatannya ke Lasem diikuti oleh adiknya yang bernama Makdum Ibrahim.
            Setelah Nyai Ageng Maloka menjadi guru agama islam di Binagun padatahun 1470 Nyai Ageng Maloka di ambil menantu oleh sang adipati Dinikahkan dengan Pangeran Bodro Negoro,putra sang adipati yang sulung.Pada tahun 1474 P. Wiro Bodro Mangkat dan digantikan putra sulungnya P. Bodro Negoro dan ia resmi menjadi adipati Lasem yang ke lima.Namun saying setelah ia baru menjabat selama lima tahun adipati Wiro Negoro Wafat.kemudian jabatannya itu digantikan oleh sang isteri Nyai Ageng Maloko .Dalam menjalankan pemerintahan ia di Bantu oleh adiknya Yaitu Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Bonang
            Pada masa kekusaan Nyai ageng Maloka ini pusat pemerintahan di kembalikan ke Lasem lagi.Nyai Ageng Maloka merupakan Adipati terahir yang menjabat di Lasem karena setelah itu Lasem sudah ada dalam kekuasaan kerajaan Demak seiring perkembangan agama Islam di tanah jawa dan kemunduran kerajaan Majapahit.
Para Penguasa Kerajaan Lasem Serta Tata pemerintahannya
Lambang Kerajaan Majapahit (Surya Majapahit)
Lasem sebagai suatu wilayah yang berdaulat dalam bentuk kerajaan,Menguasai wilayah yang meliputi Pacitan sampai Daerah muara sungai Solo yaitu daerah sedayu.Dengan demikian maka kita akan semakin mengerti bahwa luas wilayah kerajaan Lasem sangat luas apabila dibandingkan dengan wilayah kabupaten rembang yang sekarang. Apabila kita melihat luas kerajaa lasem ketika itu sedangkan kekuasaan tertinggi dijabat oleh seorang wanita,Maka kita akan dapat membayangkan bagaimana roda pemerintahan pemerintahan kerajaan Lasem dijalankan.Tidak lain keberhasilan pelaksanaan pemerintahan itu disebabkan hanya karena Bhre Lasem memiliki tiga syarat yaitu:SAMARAJ,INDRATVAN,EKA CARTA (Berdaulat,Pemimipin,Pengayom)
Untuk menjalankan roda pemerintahan itu raja raja dibantu oleh suatu Dewan mentri yang disebut Panca Mantri.Adapun Panca mantra adalah pejabat tertinggi yang bertanggungjawab jalannya pemerintahan ini disebut Rakyan panca mentri terdiri dari:
1.Rakryan Patih : yang bertugas ikut menjalankan kebijakan pemerintahan bersama raja,serta memimpin dewan mertri yang merupakan badan pelaksana pemerintahan.
2.Rakyan Tumanggung : Yang bertugas sebagai panglima kerajaan dengan tugas mengelola bidang pertahanan dan keamanan.
3.Rakyan Rangga : Yanga bertugas membantu panglima mengawal dan mendampingi raja pada waktu ada upacara kerajaan maupun dalam peperangan.
4.Rakyan Kanuruhan : Yang bertugas sebagai penghubung (juru bicara istana) serta mempunyai  tugas-tugas protokoler.
5.Rakyan Demung : Yang bertugas sebagai pengatur rumah tangga istana.

Didalam Negara kertagama kita mengetahui bahwa Lasem merupakan salah satu anggota dewan pertimbangan agung dan sangat dikenal semasa Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk atau Sri rajasanagara.Sebagai penguasa mempunyai kewenangan dengansebutan Bhatara atau Bhre yang berasal dari kata Bra dan I yang artinya raja di Bhre Dhaha artinya raja di Daha.
Bhre pajang artinya raja di pajang dan sebagainya,di dalam kertagama pupuh VI,disebutkan bahwa pada pemerintahan Jayam wuruk yang menjadi Bhre Lasem adalah adik perempuan yang bernama Rajasa Duhitendu Dewi.Yang mana Bhre Lasen ini diperistri oleh Bhre Sri Rajava wandhaka .Ketika Dyah Wiyah sebagai Bhre Dhaha  serta ibu dari Bhre Lasem wafat maka Sri Rajasa Duhitendu dewi diangkat sebagai penguasa di Dhaha.Maka pemerintahan Lasem diberikann kepada Kusuma Wardani yang dalam kitab pararaton disebut pula Bhre Lasem jang Ahayu (Bhre Lasem yang cantik).Ia adalah putrid Hayam Wuruk dan permaisurinya bernama Paduka Sori,Putra Bhra Parameswara ,Sebagai raja yan ketiga memerintah Lasem adalah Nagara wardani yang bergelar Bhre Lasem Sang Alemu (Bhre Lasem yang gemuk).Penguasa lasem selanjutnya adalah Bhre Lasem putra Bhre Wirabumi Yang Dipreistri oleh Bhre Tumapel Sedangkan Bhre Lasem terahir adalah putra Bhre Pandan Salas Yang diperistri oleh Bhre Tumapel.Setelah itu tidak terdengar lagi berita mengenai kerajaan Lasem seiring kemunduran Kerajaan Majapahit adad 16.
Angga Naga Aryyama Merupakan Peristiwa Penting
Gagahnya pasukan Majapahit yang Tersisa di Bali
Kata diatas merupakan Candara Sengkala karangan R.Bratakesawa yang mempunyai arti Angga Naga Aryyama,Angga artinya lembah mempunyai hitungan bilangan 6 ,Gora artinya besar ,Mempunyai hitungan bilangan tujuh ,Ary artinya hari mempunyai hitungan bilangan dua,Yama artinya artinya mati mempunyai arti hitungan bilangan satu .Jadi Angga Naga Aryyama mempunyai susunan bilangan 6721.Untuk membaca tahun Candra sengkala aini dibalik berarti bermakna 1276 Caka atau 1354 Masehi.Apa yang terjadi pada tahun itu di Lasem adalah datangnya Sri Rajasanagara (raja Hayam Wuruk) ke Lasem sebagai pelaksana kunjungan kerja secara resmi dan bertahap kesejumlah wilayah kekuasaannya yang disesuaikan arah mata agin pokok.Perjalanan Hayam wuruk yang dilakukan sesuai dengan arah mata angin tersesbut dapat diuraikan sebagai berikut dan mempunyai arti penting.Pusat kerajaan Majapahit adalah daerah delta sungai Brantas.Pajang adalah wilayah adalah wilayah kerajaan Majapahit yang terletak di sebelah barat delta sungai Brantas.Lasem adalah wilayah kerajaan Majapahit yang terletak di sebalah utara delta sungai Brantas yaitu terletak di pantai utara dan sebelah barat Surabaya.Sedangkan arti dari kunjungan Hayam Wuruk tersebut mempunyai arti:
1.   Bahwa hal itu menunjukkan betapa pentingnya kedudukan wilayah di atas               dalam tata politik  dan pemerintahan Majapahit.
  1. Secara Cosmologis Magis daerah tersebut memberikan kekuatan spiritual atau kedudukan dan posisi Majapahit sebagai pusat pemerintahan menurut filsafat kejawen mungkin ada kaitannya dengan kekuatan dari sedulur papat lima pancer.
Kerajaan Lasem memang sudah hilang namun banyak dari masyarakat Lasem yang percaya bahwa peninggalan-peninggalannya berupa lingga yang ditemukan di desa Sendangcoyo,Arca nandi di desa Waru Gunung,Arca Ganesha,Arca Anjing,Perhiasan Emas,Tapak kaki suci raja Hayam Wuruk dan sebagainya adalah bukti bahwa kebesaran kerajaan Lasem masih nyata hingga kini.

PENUTUP

Kesimpulan
            Lasem merupakan sebuah kota kecamatan yang terletak di wilayah kabupaten Rembang yang dulunya merupakan salah satu wilayah penting dari kerajan Majapahit. Pada waktu pemerintahan Sang Prabu Hayam Wuruk ia membentuk Dewan Pertimbangan Agung Yang berjumlah 7 (tujuh) orang.Dewan Pertimbangan Agung ini disebut ”Bathara Sapta Prabu”ketujuh anggota Batara Sapta Prabu ini seluruhnya berasal dari keluarga Hayam Wuruk yang tinggal di berbagai tempat.Mereka adalah:
1.Tribhuana Tungga Dewi: Raja di Majapahit
2.Sri Kerta Wardhana (suami): Raja Singosari
3.Dyah Wyah Rja Dewi (adik): Raja di Dhaha
4.Sri Wijaya Rajasa (Ipar): Raja di Wengker
5.Sri Rajasa Nagara (Anak): Raja muda di Kahuripan
6.Bhre Lasem (anak): Raja di Lasem
7.Bhre Pajang (anak): Raja di Pajang
Untuk menjalankan roda pemerintahan raja dibantu oleh suatu dewan yang disebut panca Menteri yang terdiri dari:
 1.Rakryan Patih : yang bertugas ikut menjalankan kebijakan pemerintahan bersama raja,serta memimpin dewan mertri yang merupakan badan pelaksana pemerintahan.
2.Rakyan Tumanggung : Yang bertugas sebagai panglima kerajaan dengan tugas mengelola bidang pertahanan dan keamanan.
3.Rakyan Rangga : Yanga bertugas membantu panglima mengawal dan mendampingi raja pada waktu ada upacara kerajaan maupun dalam peperangan.
4.Rakyan Kanuruhan : Yang bertugas sebagai penghubung (juru bicara istana) serta mempunyai  tugas-tugas protokoler.
5.Rakyan Demung : Yang bertugas sebagai pengatur rumah tangga istana

Wednesday, 11 January 2012

Sejarah Berdirinya SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang, Jawa Tengah


Sejarah Berdirinya SMP N 1 Lasem
(Sekolah Unggulan Se-Kabupaten Rembang) 


Perjalanannya Dari Masa ke Masa
            SMP Negeri 1 Lasem yang dikenal oleh para alumninya dengan sebutan SMP RITULA (negeRI saTu Lasem) dan merupakan sekolah terbaik se-Kabupaten Rembang ternyata mempunyai sejarah yang panjang. Mulai dari nama sampai lokasi sekolah sekolah hampir semua mengalami perubahan
            SMP yang sekarang beralamat di jalan Raya nomor 1 Lasem ini jika ditelusuri mula-mula merupakan gabungan antara SMP Panca Bakti dan SMP Nasional. Lokasi SMP dulu berada di gedung yang sekarang menjadi gedung Galeri Batik Lasem dulunya difungsikan menjadi Gedung PDAM Lasem sampai tahun 2007. Pertama kali SMP ini dipimpin oleh Wie Siox Nio, B.A, seorang WNI keturunan Cina. Beliau menjabat pada tahun 1965.
            Istilah SMP pada saat itu adalah Panca Bakti dan Nasional. Kemudian pada tahun 1967 berubah menjadi SMP Persiapan Negeri Lasem, yang merupakan filial dari SMP Negeri 2 Rembang.
            Pada tahun 1968 bapak Wie Siox Nio, B.A sebagai kepala sekolah diganti oleh bapak Soeroto. Setelah menunggu lebih kurang 6 tahun, SMP Persiapan Negeri Lasem tersebut dinegerikan tepatnya pada tanggal 23 Januari 1973. Kepala sekolah yang baru bernama bapak Soekrowijono, B.A masa kerjanya dimulai tahun 1973 sampai dengan 1982. Kemudian selama lebih kurang 9 tahun memimpim SMP ini, bapak Soekrowijono diganti oleh Ibu Sri Moeljati pada tahun 1982. Lebih kurang 7 tahun kemudian Ibu Sri Moeljati mutasi ke SMP Negeri 2 Rembang. Puncak pimpinan diserahkan atau digantikan oleh Bapak Soedibyo Praktikno pada tahun 1989. Beliau memimpin SMP Negeri 1 Lasem sampai tahun 1995 atau selama lebih kurang 4 tahun. Pada tahun 1995 Bapak Soedibyo Pratikno mutasi ke SMP Negeri 3 Rembang dan digantikan oleh Bapak Sisworo Pringgosoesilo. Tahun 1997 beliau purna tugas dan digantikan bapak Soemidjan pada tahun 1997 sampai tahun 2002, beliau juga purna tugas dan digantikan oleh kepala sekolah yang kelima yaitu Bapak Drs. M. Mardiyono sampai tahun 2006 karena purna tugas dan kini digantikan oleh Ibu Hj Inayah Abdul Chanan, M.Pd, Bapak Mardiyono sendiri sebenarnya juga seorang guru di SMP ini pada tahun 1967 sampai tahun 1990.
            SMP Negeri 1 Lasem yang dahulunya berada di gedung Galeri Batik Lasem lokasi tersebut karena tidak memenuhi syarat untuk pendidikan dan gedung itu milik pemerintah Kabupaten Rembang. Maka SMP Negeri 1 Lasem dipindah di lokasi sekaran ini. Pada tahun 1982 mulai dibangun sekolah ini ketika itu SMP Negeri 1 Lasem hanya berdiri sejumlah 8 kelas.
            Proses SMP ini menjadi SMP Negeri, datangnya dari arus bawah. Ketika itu Bupati Rembang mengusulkan pada pemerintah pusat Jakarta agar SMP tersebut dinegerikan. Setelah mendapat SK penegerian, maka yang meresmikan ketika itu adalah Menteri Pendidikan Republik Indonesia sehingga SMP Negeri 1 Lasem berkembang baik fisik maupun non-fisik sampai sekarang ini.
Setelah perkembanga sesuai yang telah disebutkan diatas, bahwa sebenarnya peresmian SMP Negeri 1 Lasem sejarahnya dimulai tahun 1973 sehingga sampai saat ini (2011) usia SMP Negeri 1 Lasem sudah berusia 38 Tahun usia yang sudah sangat dewasa dan matang dari berbagai pengalaman dan perjalanan sebuah sekolah. Pantas SMP Negeri 1 Lasem dapat mengukir berbagai prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik.

Perjalanan Setelah Memperoleh Gelar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)
Kepala Sekolah SMPN 1 Lasem Hj Inayah Abdul Chanan, M.Pd menerangkan, sejak berdiri tanggal 23 Januari 1973 hingga sekarang, sekolah yang dipimpinnya terus mengalami peningkatan mutu baik secara akademis maupun non-akademis. "Bahkan sejak tiga tahun silam, SMPN 1 Lasem, berpredikat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)," ujarnya.


Menurut Kepala Sekolah yang sedang menyelesaikan pendidikan S3 itu, untuk memperingati hari jadi SMP Negeri 1 Lasem, maka dibentuklah panitia pelaksana, untuk mengadakan serangkaian kegitan.
"Panitia mengagendakan serangkaian kegiatan yang diharapkan dapat menunjang tercapainya visi sekolah. Yaitu, sekolah yang unggul dalam prestasi, menghasilkan lulusan yang inovatif, kompetitif, berakhlak mulia dan berwawasan internasional,” cetusnya.
Kepala Sekolah yang belum lama ini mendapat penghargaan nasional dari Kementrian Agama  menambahkan, ada tujuan khusus SMPN 1 Lasem selalu menggelar lomba mapel terpadu untuk siswa SD/ MI se-Kabupaten Rembang, terutama pesrta yang duduk di kelas 6.
"Kami ingin mencari gambaran kualitas siswa kelas 6 SD/MI yang akan mengikuti UASBN. Sekaligus berupaya menjaring input pada penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran mendatang," ungkapnya.
Ini tak lain karena dengan predikat RSBI yang disandang SMPN 1 Lasem dimana prosentase besar proses pembelajaran menggunakan Bahasa Inggris, tentu dibutuhkan input yang berkualitas. "Agar anak-anak yang diterima dan mengikuti proses pembelajaran di SMPN 1 Lasem tidak menemui kendala, khususnya dalam menggunakan Bahasa Inggris. Karena dengan predikat RSBI yang kita sandang, sebagian mata pelajaran disampaikan dalam bahasa asing tersebut," pungkasnya.  
SMPN 1 Lasem cukup berbangga, karena diantara alumninya sukses dalam berkarier. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang Drs Dandung Dwi Sucahyo dan Asisten 1 Sekda Rembang Drs Subakti, tercatat sebagai siswa yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang beralamat di Jalan Raya No. 1 Lasem, Kabupaten Rembang.


                                     
Daftar Nama Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Lasem:
No
Nama Kepala Sekolah
Tahun Menjabat
1.
Wie Siox Nio, B.A
1965 sampai 1968
2.
Soeroto
1968 sampai 1973
3.
Soekrowijono, B.A
1973 sampai 1982
4.
Sri Moeljati
1982 sampai 1989
5.
Soedibyo Praktikno
1989 sampai 1995
6.
Sisworo Pringgosoesilo
1995 sampai 1997
7.
Soemidjan
1997 sampai 2002
8.
Drs. M. Mardiyono
2002 sampai 2004
9.
10
Drs. Sugeng Soeparto
Hj Inayah Abdul Chanan, M.Pd
2004 sampai 2005
2005 sampai Sekarang

Mars SMP Negeri 1 Lasem
Siswa SMP Negeri 1 Lasem, giat belajar tak mengenal lelah
Siswa SMP Negeri 1 Lasem bersemangat membela Pancasila
Marilah semua belajar bersama demi masa depan kita
Menjunjung derajad bangsa dan Negara
Republik Indonesia tercinta
Cita-cita yang luhur dan mulia
Keluarga SMP Negeri 1 Lasem.
Visi dan Misi SMP Negeri 1 Lasem
Visions
School that is leading in achievment,producing the innovative and competitive graduating that good moral and international perspective.
Missions
1.      Developing the national and international curriculum units
2.      Developing national and international school learning process
3.      Increasing graduating competitive achievement of national and international subjects
4.      Improving national and international academic and non academic achievement
5.      Developing the educators and non educators national and international based
6.      Developing national and international educational facilities
7.      Carrying out the minimal educational standartd
8.      Developing school finance
9.      Developing good moral school life
10.  Developing school healty life style
11.  Developing esthetic values of school life
12.  Developing religius school activities.

Tuesday, 20 September 2011

Batik Cap Kuda Lasem (Batik Akulturasi Budaya Lokal & Tiong Hoa)

Papan arah menuju Batik Tulis Cap kuda

Batik Tulis Lasem Cap Kuda
Desa Gedongmulyo Gang IV/1 Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang
Jawa Tengah 59271

Narasumber : Bapak Purnomo 56 tahun (pemilik batik tulis Lasem Cap Kuda)

Batik Lasem telah lama menjadi icon yang membuat nama Rembang banyak dikenal hingga tingkat Nasional bahkan Internasional, karena uniknya Batik Lasem banyak pecinta Batik mencarinya menurut mereka warna khas merah darah dan motif burung Phoenix yang menjadi daya tariknya yang tidak dimiliki batik lain di Indonesia, untuk lebih jelasnya berikut wawancara saya bersama Bapak Purnomo 56 Tahun pemilik Batik tulis Lasem cap Kuda :
Apa yang membuat Batik Lasem banyak dicari pak?
. "Batik Lasem itu lucu dan manis. Jadi banyak orang  yang suka", demikian dituturkan oleh  bapak Purnomo. Pengusaha batik asal Lasem yang juga keturunan Tiong Hoa, selain memproduksi ia juga punya hobi mengoleksi batik tulis tradisional pesisiran dan pedalaman Pulau Jawa. Hingga kini koleksinya sudah mencapai 1.400-an helai. Bila dipukul rata panjang setiap kain 2 m lalu dibentangkan, seluruhnya mencapai 2,8 km panjangnya, atau kira-kira 7 kali lintasan atletik. Malah bisa jadi jauh lebih panjang dari itu karena kebanyakan lebih dari 2 m panjangnya, bahkan ada yang hampir 4 m, meski ada juga yang kurang dari 2 m.
Bagaimana perkembangan Batik Tulis Lasem dan apa tantangannya?
Lasem, selain disebut Kota Pecinan, Kota Santri dan Kota Tua, juga dikenal sebagai Kota Batik Tulis. Memang, dibanding dengan Solo dan Pekalongan, batik Lasem bisa dibilang ketinggalan. Sebab dua kota tersebut sekarang mengembangkan batik printing yang bisa diproduksi pabrik.Memang batik tulis mempunyai nilai seni cukup tinggi, sehingga nilai jual batik juga cukup mahal sesuai dengan rumitnya dan lamanya pembuatan batik tulis. Tetapi konsumen dari batik tulis ini juga terbatas, yakni dari kalangan penggemar batik berbau seni dan kalangan menengah ke atas mengingat harganya cukup mahal. Beruntung, sekarang ini ada batik tulis yang harganya cukup murah. Yakni, antara Rp 50.000-Rp 60.000 per potong, sehingga terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah jadi bisa lebih memperkenalkan batik ke masyarakat luas.

Bagaimana Pemkab Rembang memposisikan komoditas Batik Lasem ini?
Batik tulis Lasem merupakan salah satu komoditas unggulan industri kecil di Kabupaten Rembang selain komoditas yang lain. Seperti bordir, kerajinan kuningan di Jolotundo Lasem, mebeler, perikanan (ikan asin) dan lainnya. Batik Tulis Lasem merupakan peninggalan nenek moyang dan berkembang mulai pertengahan abad ke-17. Sentra Batik Tulis Lasem antara lain di Gedongmulyo, Karangturi, Soditan, Selopuro, Sumbergirang dan Babagan di Kecamatan Lasem. Kemudian Desa Jeruk dan Karahkepoh, Kecamatan Pancur.
Berapa jumlah pengusaha batik di Lasem dan berhasil menyerap berapa tenaga kerja?
Jumlah unit usaha Batik Tulis Lasem saat ini mencapai 175 unit usaha. Tetapi yang aktif dan besar hanya sekitar 15 pengusaha. Dari jumlah itu berhasil menyerap tenaga kerja dari perajin maupun pegawai lainnya sebanyak 1.590 orang. Kemudian kapasitas produksi mencapai sekitar 38.900 potong per tahun.
Dimana saja daerah pemasaran dari produksi Batik tulis cap Kuda?siapa konsumennya?
Daerah pemasaran Batik Tulis Lasem cap Kuda antara lain meliputi Semarang, Cirebon, Serang, Surabaya dan di Sumatra (Medan dan Padang). Segmen pasar Batik Tulis Lasem masih didominasi kelas menengah ke bawah khususnya kelompok umur orang tua dan dewasa. Segmen pasar kalangan menengah ke atas khususnya pecinta seni dan aliran naturalisme kini sedang digarap serius oleh para pengusaha Batik Tulis Lasem untuk menyesuaikan harga produk yang memang cukup mahal.Selain mendapat tekanan persaingan dari batik printing dalam hal pemasaran, kendala yang dihadapi Batik Tulis Lasem ke depan adalah kemungkinan terputusnya generasi pembatik.
Bagaimana kondisi para pekerja di sini? Apakah ada kendala pelestarian batik?
Saat ini sebagian besar perajin batik masih didominasi para orang tua yang sudah berusia lanjut. Dan membatik bagi mereka hanya merupakan pekerjaan sampingan di sela-sela mengerjakan sawah dan kebun.Sementara itu, kaum muda kurang berminat untuk belajar membatik, karena dinilai kurang menjanjikan. Kendala lain adalah mahalnya harga bahan baku batik berupa kain mori. Kain mori masih harus didatangkan dari luar daerah, sehingga harganya cukup tinggi.

Usaha Dalam melestarikan Batik Lasem?
“Tahun lalu kami sebenarnya sudah menawarkan kepada pemkab agar di sekolah-sekolah SD-SMA mulai diperkenalkan membatik melalui kegiatan ekstrakurikuler. Tetapi hal itu nampaknya belum mendapat tanggapan serius dari dinas pendidikan nasional. Ini saya sampaikan dalam rangka mencari generasi penerus pembatik yang teracam kehilangan genarasi,” . Dia menyatakan, sebenarnya siap datang ke sekolah-sekolah untuk menularkan ilmu membatik kepada murid SD-SMA dalam kegiatan ekstra kurikuler. Tetapi beberapa sekolah yang sempat dihubungi menyatakan tidak ada biaya untuk kegiatan seperti itu. “Kami sebenarnya ingin menjaring calon pembatik dari kalangan anak-anak sekolah, siapa tahu di antara mereka ada yang berbakat menggambar batik yang baik, sehingga ke depan batik tulis Lasem tidak kehilangan generasi pembatik”.
Dari generasi keberapa bapak dalam menjalani usaha ini? Jumlah tenaga kerja dan produksinya?
Dia mengaku sebagai generasi ke empat dari keluarganya yang meneruskan usaha batik tulis ini. Agar usahanya tetap eksis dan terus berjalan, dia terpaksa merekrut sejumlah tenaga muda khususnya dari ibu-ibu muda yang tidak mungkin pergi bekerja ke luar daerah dari beberapa desa sekitar. Misalnya dari Desa Pohlandak, Karaskepoh dan lainnya. Usahanya sekarang memperkejakan sekitar 30 orang. Produksinya mencapai sekitar 300 potong/bulan.Batik Tulis memang rumit dan memerlukan waktu cukup lama. Sejak dari bahan dasar mori sampai jadi potongan batik bisa memerlukan waktu antara 10-20 hari. Tergantung dari terik matahari. Jika pada musim penghujan seperti sekarang, satu potong batik baru bisa selesai sampai 20 hari. Tetapi jika panas matahari cukup, dalam 10 hari saja sudah selesai. Lantaran rumitnya pembuatan batik tulis, maka harganya pun cukup mahal.
Berapa harga Batik Lasem produksinya Bapak?
Satu potong batik dengan kain sedang harganya Rp 300.000/potong. Kalau kain dasarnya baik, harganya satu potong bisa mencapai Rp 2 juta."Sekarang jarang yang membuat batik lasem. menyampaikan hal itu sambil menunjukkan motif kawung dari sepotong kain batik lasem. Kain itu dia jual seharga Rp 65.000 per potong kepada pembeli. "Kain ini murah karena batikannya biasa. Tidak halus," katanya.

Galeri Penjualan Batik Lasem Cap Kuda, Jln. Sultan Agung, Lasem

Sejarah singkat tentang batik Tulis Lasem?
Saya prihatin sekarang sudah jarang orang yang membatik kain di Lasem, sebuah kecamatan yang kaya dengan tradisi, khususnya tradisi Tionghoa, di Kabupaten Rembang. Pembatik kain batik lasem kebanyakan adalah keturunan Tionghoa dan sekarang mereka umumnya sudah tua. Lasem, kota kecamatan di bagian timur Kabupaten Rembang, terletak kurang lebih 13 kilometer dari ibu kota kabupaten. Nama Lasem selama ini lebih dikenal dibandingkan ibu kota kabupatennya sendiri, Rembang. Sebagian besar bus dari luar daerah selalu transit di Terminal Lasem dan menempatkan Lasem sebagai jalur kendaraan, dan bukan Rembang. Misalnya, bus jalur Semarang-Lasem.Lasem, konon lebih dari 200 tahun yang lalu, datanglah orang Tionghoa yang kemudian menghuni wilayah ini hingga keturunannya sekarang. Peninggalan pendatang Tionghoa itu masih terlihat jelas dari arsitektur bangunan rumah yang ada di daerah tersebut.Di kota ini berderet bangunan tinggi besar yang kokoh. Dari luar tampak seperti bangunan biasa dengan tembok yang tinggi. Namun, ketika masuk ke dalamnya, terlihat sesuatu yang lain. Ukiran naga pada pintu-pintu besar, serta adanya altar tempat abu jenazah, memperlihatkan dengan jelas bahwa bangunan ini kental dengan nuansa Tionghoa yang disebut omah ombo karena besar dan luas
Menurut pere yang masih terlihat energik kalau berbicara ini, moyangnya adalah pelaut yang terdampar di Indonesia. Konon, mereka adalah pedagang candu yang kaya. Kisah masuknya etnis Tionghoa di daerah ini bahkan sempat diabadikan dalam film berjudul Ca Bau Kan karya Remy Silado. Orang ini juga yang kemudian memperkenalkan dan mengembangkan teknik batik tulis di Lasem, yang kemudian terkenal dengan batik lasem.
Apa yang dimaksud batik Tulis pak?
Menurut penuturan  bapak Purnomo, sejak dahulu batik lasem sangat terkenal. Jenis batik tulis, yaitu batik hasil lukisan tangan pada sepotong kain dengan menggunakan canting-alat lukis yang berfungsi sebagai pena-dan malam, jenis lilin yang berfungsi sebagai tinta untuk membatik, ini mempunyai nilai seni yang tinggi. Tak heran jika harga kain batik lasem mahal.Nilai seni batik tulis lasem terletak pada motif dan kehalusannya dan bersifat relatif. Motif kain batik lasem bermacam-macam. Sedikitnya ada lima motif, yaitu tiga negeri, empat negeri, kawung, rawan, dan kendoro-kendiri. Pembuatan batik dilakukan secara kumulatif, artinya masing-masing orang mengerjakan satu tahapan dalam jumlah banyak. Untuk menyelesaikan 100 potong kain batik tulis, dengan 20 tenaga kerja, waktu yang diperlukan sekitar dua bulan. Pembatikan itu melalui berbagai tahapan, mulai dari pembuatan pola (nglengkreng), menutup bagian yang tidak berpola (nembok), dan mewarnai (nerusi).

Tahap nerusi ini bisa mencapai tiga kali proses, bergantung pada berapa warna yang digunakan. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin lama pula prosesnya. "Per potong kain rata-rata dijual seharga Rp 150.000 hingga Rp 300.000. Ada juga yang lebih mahal, sampai Rp 1.000.000. Tetapi, hanya kain yang benar-benar istimewa, baik dari kehalusan batikan maupun motifnya," ungkap Purnomo, pemilik perusahaan batik tulis Cap Kuda di Lasem ini.
Bagaimana posisi batik Lasem dulu, sekarang, dan ke depan?
Menurut  bapak Purnomo, karena harganya yang mahal ini pula, batik tulis lasem mulai tergusur oleh batik cap atau batik printing yang harganya jauh lebih murah. Dahulu, perusahaan ini selalu kehabisan persediaan. Sekarang penjualan hanya rata-rata sekitar 20 potong setiap bulan. "Sejak munculnya batik printing di era 1990-an, kondisi batik tulis lasem menjadi lesu," lanjut pria ini di tokonya yang berisi sekitar 300 potong kain batik. Keadaan ini lebih diperparah oleh krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Penjualan batik tulis menjadi sangat merosot dan akibatnya banyak perusahaan batik tulis yang terpaksa tutup.Dari sekitar 100 perusahaan batik tulis yang dulu ada di daerah ini, sekarang yang masih bertahan kurang dari 10 perusahaan. Salah satunya adalah milik Purnomo di Gedungmulyo, Lasem. "Boleh dibilang, kejayaan batik lasem sekarang tinggal 25 persen,".
Selain karena harga faktor apa saja yang membuat terpuruknya batik Lasem pak?
Selain karena faktor harga, kemunduran batik tulis lasem juga disebabkan oleh kehilangan generasi yang menekuni profesi ini. Umumnya angkatan muda dari Lasem lebih memilih merantau daripada mempertahankan tradisi membatik.Purnomo, ayah tiga anak, mengakui, hingga sekarang tidak mempunyai penerus tradisi sehingga ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan usahanya kelak. Akibat lesunya industri batik tulis ini, banyak pekerja yang umumnya adalah warga pribumi beralih ke sektor lain, seperti pertanian dan perikanan. Ada juga yang berusaha membuat industri batik tulis kecil-kecilan, yang kemudian dijual sendiri di pasar. Tentu dengan harga lebih murah.


Bagaimana usaha untuk mempertahankan agar batik Tulis terutama produksi bapak tetap eksis ? dan apa harapan bapak?
Pentinglah upaya mempromosikan batik tulis lasem ke dunia luar. Untuk mengurangi tingkat kemahalan batik tulis, upaya yang ditempuh adalah membuat produk pakaian dengan kombinasi batik tulis lasem dan kain biasa.Upaya ini mulai ditempuh sejak dua bulan lalu. Promosi terutama dilakukan di Jakarta dengan memanfaatkan media elektronik televisi swasta. Langkah ini memang masih awal, tetapi nantinya diharapkan akan memberi hasil yang baik. Ia berharap batik lasem bisa meraih kejayaannya kembali. Bukan hanya dipakai dan digemari banyak orang, tetapi juga bisa menghidupi banyak orang. Batik lasem diharapkan bisa kembali menjadi "lokomotif" perekonomian Rembang.