Wednesday, 11 May 2011

Nugroho Notosusanto,Putra Rembang Yang Membanggakan


Nugroho Notosusanto


Nugroho Notosusanto

Masa jabatan
19 Maret 19833 Juni 1985
Presiden Soeharto
Pendahulu Daoed Joesoef
Pengganti Fuad Hassan

Lahir 15 Juli 1930
Bendera Belanda Rembang, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal
3 Juni 1985 (umur 54)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Agama Islam
Nugroho Notosusanto (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 15 Juli 1930 – meninggal di Jakarta, 3 Juni 1985 pada umur 54 tahun) adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1985). Sebelumnya juga ia pernah menjadi Rektor Universitas Indonesia (1982-1983). Ia berkarier di bidang militer dan pendidikan. Selain itu ia juga terkenal sebagai sastrawan, yang oleh H.B. Yassin digolongkan pada Sastrawan Angkatan 66.

 Masa kecil

Ayah Nogroho bernama R.P. Notosusanto yang mempunyai kedudukan terhormat, yaitu seorang ahli hukum Islam, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, dan seorang pendiri UGM. Kakak Nugroho pensiunan Patih Rembang dan kakak tertua ayah Nugroho adalah pensiunan Bupati Rembang. Pangkat patih, apalagi bupati sangat sulit dicapai rakyat pribumi pada waktu itu di daerah pesisiran Rembang. Nugroho adalah anak pertama dari tiga bersaudara.Keluarga
Ketika Nugroho sedang giat-giatnya dalam gerakan mahasiswa, ia berkenalan dengan Irma Sawitri Ramelan (Lilik). Perkenalan itu kemudian diteruskan ke jenjang perkawinan pada tangal 12 Desember 1960, di Hotel Indonesia. Istri Nugroho adalah keponakan istri mantan Presiden RI Prof. Dr. B.J. Habibie. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai tiga orang anak, yang pertama bernama Indrya Smita sudah tamat FIS UI, yang kedua Inggita Sukma, dan yang ketiga Norottama.

 Pendidikan

Pendidikan yang pernah diperoleh Nugroho adalah Europeese Lagere School (ELS) tamat 1944, kemudian menyelesaikan SMP di Pati Tahun 1951 tamat SMA di Yogyakarta. Setamat SMA ia masuk Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah, Universitas Indonesia, dan tamat tahun 1960. Tahun 1962 ia memperdalam pengetahuan di bidang Sejarah dan Filsafat di University of London. Ketika tamat SMA, sebagai seorang prajurit muda ia dihadapkan pada dua pilihan, yaitu meneruskan karier militer dengan mengikuti pendidikan perwira ataukah menuruti apa yang diamanatkan ayahnya untuk menempuh karier akademis. Ayahnya dengan tekun dan sabar mengamati jejaknya. Ternyata, setelah 28 tahun, keinginan ayahnya terkabul meskipun sang ayah tidak sempat menyaksikan putranya dikukuhkan sebagai guru besar FSUI karena ayahnya telah wafat pada tanggal 30 April 1979. Dengan usaha yang sebaik-baiknya, amanat ayahnya kini telah diwujudkan meskipun kecenderungan pada karier militernya tidak pula tersisih. Pada tahun 1977 ia memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra bidang sejarah dengan tesis "The Peta Army During the Japanese Occupation in Indonesia", yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia. diterbitkan oleh penerbit Gramedia pada tahun 1979. Nugroho mendapat pendidikan di kota-kota besar seperti Malang, Jakarta, dan Yogyakarta.

 Pengalaman kemiliteran

Pengalaman Nugroho Notosusanto di bidang kemiliteran, pernah menjadi angota Tentara Pelajar (TP) Brigade 17 dan TKR Yogyakarta. Sejak Nugroho menjadi anggota redaksi harian Kami, ia semakin menjauh dari dunia sastra, akhirnya ia tinggalkan sama sekali. Ia kemudian beralih ke dunia sejarah dan tulisannya mengenai sejarah semakin banyak. Pada tahun 1967, Nugroho mendapatkan pangkat tituler berdasarkan SK Panglima AD No. Kep. 1994/12/67 berhubungan dengan tugas dan jabatannya pada AD. Pangkat terakhirnya adalah Brigadir Jenderal, pangkat tertinggi yang mungkin diraih dalam karier sipil di kemiliteran saat itu. Sejak tahun 1964, ia menjabat Kepala Pusat Sejarah ABRI. Ia juga menjadi anggota Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan serta aktif dalam herbagai pertemuan ilmiah di dalam dan di luar negeri. Pada tahun 1981 namanya kembali disebut-sebut berkenaan dengan bukunya Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara. Buku ini menimbulkan polemik di berbagai media massa. Bahkan banyak pula yang mengecam buku itu sebagai pamflet politik.

Karier menulis

Nugroho dikenal sebagai penulis produktif. Di samping sebagai sastrawan dan pengarang, ia juga aktif menulis buku-buku ilmiah dan makalah dalam berbagai bidang ilmu, dan terjemahannya yang diterbitkan berjumlah dua puluh satu judul. Buku-buku itu sebagian besar merupakan lintasan sejarah dan kisah perjuangan militer. Wawasan yang mendalam tentang sejarah perjuangan ABRI menyebabkan ia mampu mengedit film yang berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI.
Di bidang keredaksian dapat dicatat sejumlah pengalamannya, yaitu memimpin majalah Gelora, menjadi pemimpin redaksi Kompas, anggota dewan redaksi Mahasiswa bersama Emil Salim Tahun 1955-1958, menjadi ketua juri hadiah sastra, dan menjadi pengurus BMKN. Sewaktu di perguruan tinggi ia menjadi koresponden majalah Forum, dan menjadi redaksi majalah Pelajar.
Nugroho juga aktif dalam berbagai pertemuan ilmiah baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam tahun 1959-1976 tercatat empat kali pertemuan ilmiah internasional yang dihadirinya.

 Karier di bidang pendidikan

Di bidang pendidikan, Nugroho banyak memegang peranan penting. Ia pernah menjadi Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FSUI, menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, UI. Tahun 1971-1985 Nugroho menjadi wakil Ketua Harian Badan Pembina Pahiawan Pusat. Ketika Nugroho dilantik menjadi Rektor UI, ia disambut dengan kecemasan dan caci maki para mahasiswa UI. Mahasiswa menganggap Nugroho adalah seorang militer dan merupakan orang pemerintah yang disusupkan ke dalam kampus untuk mematikan kebebasan kehidupan mahasiswa.
Pada tanggal 19 Maret 1983, Nugroho dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam Kabinet Pembangunan IV. Ia dikenal sebagai orang yang kaya ide, karena semasa menjadi menteri, ia mencetuskan banyak gagasan, seperti konsep wawasan almamater, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Pendidikan Humaniora. Di samping itu, banyak jasa-jasanya dalam dunia pendidikan karena ia yang mengubah kurikulum menghapus jurusan di SMA, sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru (Sipenmaru). Walaupun Nugroho hanya dua tahun menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, banyak hal yang telah digarapnya, yaitu Universitas Terbuka (UT) sebagai perguruan tinggi negeri yang paling bungsu di Indonesia. Program Wajib Belajar, Orang Tua Asuh, dan pendidikan kejuruan di sekolah menengah. Nugroho adalah satu-satunya menteri yang mengeluarkan Surat Keputusan mengenai tata laksana upacara resmi dan tata busana perguruan tinggi. Akan tetapi, sebelum SK ini terlaksana Nugroho telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa.
Penghargaan
Puncak pengakuan atas sumbangan Nugroho terhadap bangsa Indonesia adalah diberikannya Bintang Dharma, Bintang Gerilya, Bintang Yudha Dharma Nararya, Satyalancana Penegak.

Karier sebagai sastrawan

Pengarang yang dimasukkan H.B. Jassin ke dalam golongan sastrawan Angkatan 66 termasuk juga sastrawan angkatan baru (periode 1950-an) menurut versi Ajip Rosidi di antaranya adalah Nugroho Notosusanto.
Di antara pengarang semasanya, Nugroho dikenal sebagai penulis esai. Sebagian besar pengarang waktu itu hanya menulis cerpen dan sajak, tetapi Nugroho banyak menulis esai. Nugroho menyelami zamannya, terutama tentang sastra dan kebudayaan. Tulisan-tulisan yang berisi pembelaan para sastrawan muda, yaitu ketika terdengar suara-suara tentang krisis kesusastraan, menyebabkan Nugroho Notosusanto tertarik dalam dunia sastra Indonesia. Nugroholah yang memprakarsai simposium sastra FSUI pada tahun 1953; yang kemudian dijadikan tradisi tahunan sampai tahun 1958.
Bakat Nugroho dalam mengarang sudah terlihat ketika masih kecil. Ia mempunyai kesenangan mengarang cerita bersama Budi Darma. Cerita Nugroho selalu bernapas perjuangan. Pada waktu itu Republik Indonesia memang sedang diduduki oleh Belanda. Dari cerita-cerita yang dihasilkan Nugroho waktu itu, tampak benar semangat nasionalismenya. Menurut ayahnya, Nugroho mempunyai jiwa nasionalisme yang besar.
Sebagai sastrawan, pada mulanya Nugroho menghasilkan sajak dan sebagian besar pernah dimuat di harian Kompas. Oleh karena tidak pernah mendapat kepuasan dalam menulis sajak, Nugroho kemudian mengkhususkan diri sebagai pengarang prosa, terutama cerpen dan esai. Karyanya pernah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar seperti Gelora, Kompas, Mahasiwa, Indonesia, Cerita, Siasat, Nasional, Budaya, dan Kisah. Di samping itu, Nugroho juga menghasilkan karya terjemahan. Hasil terjemahan Nugroho, yaitu Kisah Perang Salib di Eropa (1968) dari Dwight D. Eisenhower, Crusade in Europe, Understanding Histotry: A Primer of Historical Method. Terjemahan tentang bahasa dan sejarah, yaitu Kisah daripada Bahasa, 1971 (Mario Pei, The Story of Language), dan Mengerti Sejarah. Karena Nugroho cukup lama dalam kemiliteran, ia dapat membeberkan peristiwa-peristiwa militer, perang serta suka-dukanya hidup, seperti dalam cerpennya yang berjudul Jembatan, Piyama, Doa Selamat Tinggal, Latah, dan Karanggeneng. Dalam cerpen ini bahasa yang digunakan padat dan sering ada kata-kata kasar. Nugroho juga dapat bercerita dengan bahasa yang halus, seperti yang terdapat pada cerpen yang berjudul Nini. Cerpen yang berjudul Nini ini bertema seorang anak yang cacat dan ditinggal meninggal oleh ibunya, tetapi masih mengingat-ingat kebaikan ibunya. Cerpen ini bahasanya sederhana dan isinya mudah dimengerti pembaca. Isi cerpen ini tentang seorang ayah mencintai anaknya yang cacat dan yang mirip dengan almarhumah istrinya.
Lingkungan pendidikan kata-kata kasar agaknya memberi pengaruh pada sikap dan pandangan hidupnya, seperti sikap terhadap dunia nenek moyang yang magis religius, seperti kita lihat dalam cerpennya yang berjudul Mbah Danu, yaitu mengisahkan dukun “Mbah Danu” yang terjadi di kota kelahiran pengarang. Dukun besar yang diakui keampuhannya di seluruh daerah dalam menyembuhkan orang sakit dengan mengusir roh-roh, setan-setan, dan jin-jin yang biasanya menghuni orang yang sedang sakit. Adanya kepercayaan mistik ini kemudian menimbulkan pertentangan di kalangan ilmuwan yang berpendidikan modern yang tak mau tahu tentang ilmu gaib. Begitu juga seorang dokter yang melakukan tugasnya dengan perhitungan ilmiah.
Sebagai pengarang dan sebagai tentara Nugroho dapat bercerita tentang suasana pertempuran, baik tentang tempat, maupun peralatan peperangan. Pengarang mau berkata sejujurnya bahwa manusia itu tidak bebas dari kesalahan, baik dia tentara, pelajar, maupun pemimpin, seperti yang dilukiskannya dalam cerpen Pembalasan Dendam.
Kumpulan cerpen Hujan Kepagian berisi enam cerita pendek yang semuanya menceritakan masa perjuangan menghadapi agresi Belanda. Buku ini cukup memberi gambaran tentang berbagai segi pengalainan manusia yang mengandung ketegangan, penderitaan, pendambaan, dan sesalan yang sering terjadi dalam peperangan. Dari sini tampak bahwa Nugroho mempunyai bakat observasi yang tajam.
Bukunya yang berjudul Tiga Kota berisi sembilan cerita pendek yang ditulis antara tahun 1953-1954, judul Tiga Kota diambil karena latar cerita terjadi di tiga kota, yaitu Rembang, Yogyakarta, dan Jakarta, kota yang paling banyak memberinya inspirasi untuk lahirnya cerita. Rembang melatari cerita kenangan Mbah Danu, Penganten, dan Tayuban. Yogyakarta dan Jakarta melatari cerita Jeep 04-1001 Hilang dan Vickers Jepang. Oleh karena itu, kumpulan cerpen tersebut diberi judul Tiga Kota. Cerpen-cerpen yang terkandung dalam Tiga Kota ini pada umumnya sangat menarik, tidak hanya karena penuturan cerita yang lancar dan dipaparkan dengan gaya akuan, tetapi juga karena penulis sendiri mengalami peristiwa yang dituturkannya. Dengan demikian, cerpen-cerpen itu kelihatan hidup. Kumpulan cerpen Tiga Kota, ini sedikitnya merekam kehidupan pribadi penulis.
Dalam seminar kesusastraan yang diselenggarakan oleh FSUI tahun 1963, Nugroho membawakan makalahnya yang berjudul Soal Periodesasi dalam Sastra Indonesia. Ia mengemukakan bahwa sesudah tahun 1950 ada periode kesusastraan baru yang tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam periodisasi sebelumnya. Menurut Nugroho, pengarang yang aktif mulai menulis pada periode 1950-an adalah mereka yang mempunyai tradisi Indonesia sebagai titik tolaknya, dan juga mempunyai pandangan yang luas ke seluruh dunia. 

Karier sebagai sejarahwan dan kontroversinya
Sebagai seorang sejarahwan, Nugroho dimanfaatkan oleh ABRI maupun Orde Baru untuk menulis sejarah menurut versi pihak-pihak tersebut.[1] Pada 1964 ABRI menggunakan Nugroho untuk menyusun sejarah militer menurut versi militer karena khawatir bahwa sejarah yang akan disusun oleh pihak Front Nasional yang dikenal sebagai kelompok kiri pada masa itu akan menulis Peristiwa Madiun secara berbeda, sementara militer lebih suka melukiskannya sebagai suatu pemberontakan pihak komunis melawan pemerintah.
Ketika diangkat sebagai menteri pendidikan pada 1984, Nugroho menggunakan kesempatan itu untuk menulis ulang kurikulum sejarah untuk lebih menekankan peranan historis militer. Pada tahun ini pula Nugroho ikut menulis skenario untuk film Pengkhianatan G 30 S/PKI yang memuat versi resmi Orde Baru tentang tragedi tersebut. Film ini kemudian dijadikan tontonan wajib untuk murid-murid sekolah di seluruh Indonesia, dan belakangan diputar sebagai acara rutin setiap tahun di TVRI pada malam tanggal 30 September hingga tahun 1997.
Peranan Nugroho dalam penulisan sejarah versi Orde Baru paling menonjol ketika ia mengajukan versinya sendiri mengenai pencetus Pancasila. Menurut Nugroho, Pancasila dicetuskan oleh Mr. Muhammad Yamin, bukan oleh Soekarno. Soekarno hanyalah penerus. Akibatnya, tanggal 1 Juni tidak lagi diperingati sebagai hari lahir Pancasila oleh pemerintah Orde Baru.

 Kematian

Nugroho meninggal dunia hari Senin, 3 Juni 1985 pukul 12.30, di rumah kediamannya karena serangan pendarahan otak akibat tekanan darah tinggi. Ia adalah menteri keempat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Orde Baru yang meninggal dunia dalam masa tugasnya. Ia meninggal dunia tepat pada bulan yang mulia bagi umat Islam, yaitu pada bulan Ramadan dan di kebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

 Bibliografi

[sunting] Cerpen yang dibukukan

  1. Hidjau Tanahku, Hidjau Badjuku. 1963. Jakarta: Balai Pustaka
  2. Hudjan Kepagian. 1958. Jakarta: Balai Pustaka
  3. Rasa Sayange. 1961. Jakarta: Pembangunan
  4. Tiga Kota. 1959. Jakarta: Balai Pustaka

 Cerpen dalam majalah

 Prosa

  1. Pondok di Atas Bukit. Kompas untuk generasi baru, 11.1, (51), 15—17.
  2. Teratak. Kompas untuk generasi baru, 13.1, (51), 33-34. (Nugroho NS)
  3. Sebuah Pertemuan. Kompas untuk generasi baru, 2.2, (52), 33-35.
  4. Eksekusi. Madjalah Nasional, 44.4, (53), 20-21.
  5. Gunung Kidul. Madjalah Nasional, 30.4, (53), 20-2 1.
  6. Jeep 04-1001 Hilang. Kisah, 1.1, (53), 7, 9-10.
  7. Konyol. Madjalah Nasional, 33.4, (53), 20-22.
  8. Pembalasan Dendam. Madjalah Nasional, 37.4, (53), 20-22.
  9. Ideal Type. Kisah, 1.2, (54), 19-22
  10. Mbah Danu. Kisah, 9.2, (54), 271-172.
  11. Nokturne. Kisah, 12.2, (54), .365-368.
  12. Piyama. Kisah, 6.2, (54), 177-178.
  13. Puisi. Kisah, 7.2, (54), 210-211.
  14. Raden Satiman. Kisah, 3.2, (54), 79-81.
  15. Vickers Jepang. Kisah, 5.2, (54), 129-131.
  16. Jembatan. Kisah, 8.3, (55), 16-22.
  17. Partus. Mimbar Indonesia, 25.9, (55), 20-2 1, 24-25.
  18. Senyum. Madjalah Nasional, 6,7.6, (55), 25-26,22-23,26.
  19. Setan Lewat. Mimbar Indonesia, 6.9, (55), 20-21.
  20. Panser. Siasat, 524.11, (57), 29-31, 34.
  21. Tangga Kapal. Forum, 4-5.4 (57), 24,32.
  22. Kepindahan. Siasat, 598.12, (58), 31-32.
  23. Piano. Siasat, 574.12, (58), 24-27.
  24. Ular. Siasat, 595.12, (58), 26-29.
  25. Karanggenang. Siasat, 619.13, (59), 28-30.
  26. Latah. Siasat, 626.13, (59), 23-24.
  27. Sungai. Budaya, 8.8, (59), 276-279,
  28. Bayi. Femina, 16, (73), 42-44.
  29. Alun. Kompas untuk generasi baru, 1.2, (52), 67.
  30. Jerit di Malam Kelam. Madjalah Nasional, 18.3, (52), 17.
  31. Pesan di Malam yang Penub Bintang. Madjalah Nasional, 17.3, (52), 19.
  32. Rancangan Requiem. Kompas untuk generasi baru, 1.2, (52), 67.
  33. Sebuah Pagi. Madjalah Nasional, 49.3, (52), 21.
  34. Sepotong Kenangan. Madjalah Nasional, 46.3, (52), 19.
  35. Sesal. Kompas untuk generasi baru, 2.2, (52), 36.
  36. Tiwikraina. Madjalah Nasional, 47.3, (52), 19.
  37. Adios Yogya. Madjalah Nasional. 10.4, (53), 19.
  38. Amerta. Madjalah Nasional, 16.4. (53), 19.
  39. Bali. Budaya, 9, (53), 39.
  40. Longka Pura. Madjalah Nasional, 16.4, (53), 19.
  41. Sebuah Malam Minggu. Madjalah Nasional, 14.4, (53), 19.

 Referensi

  1. ^ http://www.insideindonesia.org/edit68/Nugroho1.htm A soldier's historian: New Order generals needed new history books. Nugroho Notosusanto was their man.

Wednesday, 13 April 2011

Pesona Wisata Rembang (VISIT REMBANG YEAR 2012)

Tugu Masuk Kota Rembang 
Motto : Rembang BANGKIT
Provinsi : Jawa Tengah
Luas : 1.014,10 km
Jumlah penduduk : 577.000 (2003)
Kepadatan : 569/km
Kecamatan : 14 dan 287 desa/kelurahan
Bupati dan Wakil: H.Moch Salim dan H.M Khafid

PESONA KABUPATEN REMBANG

A.Bahasa Dialeg Khas Pesisiran Rembang
Kawula Muda Rembang
            Indonesia mempunyai ratusan bahasa daerah bahkan mungkin ribuan dan masih terbagi atas dialeg-dialeg yang khas karena faktor geografi.Di Rembang sendiri karena memang berada di wilayah propinsi Jawa Tengah yang menggunakan bahasa jawa dalam kegiatan sehari hari mempunyai karakter logat yang khas dibanding bahasa jawa lain. Karena memang berada didaerah pesisir maka jangan heran kalau anda berkunjung ke Rembang mungkin anda akan kaget mendengar orang Rembang berbicara,ya suara keras nan lantang adalah logat khas daerah ini nada berbicarannyapun naik turun dan cenderung lebih cepat temponya.Tentu ini akan membuat anda sulit memahami ketika orang Rembang berbicara pada anda.
            Kalau kita amati bahasa logat pesisiran Rembang agak sama dan memang mempunyai banyak persamaan dengan logat maupun kata dalam bahasa Jawa timur-an karena kabupaten Rembang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Timur.Dialeg yang khas dari Rembang yaitu penggunaan ahiran “leh” pada setiap perkataan untuk menyatakan rasa heran,kagum maupun jengkel terhadap suatu hal.Misalnya: “Piye leh iki jarene gampang kok malah angel”.Logat lain yang khas yaitu penggunaaan ahiaran em atau nem yang menunjukkan arti milik.Misalnya:”Maturnuwun yo,iki bukunem tak balekno”.Contoh lain “Iki lho omahem kok gede banget”.
            Perbedaan em dan nem yaitu ahiran em digunakan untuk kata yang tidak huruf vocal,sedangkan apabila ahirannya huruf vokal menggunakan ahiran nem.Walaupun demikian orang Rembang masih menggunakan bahasa jawa kromo untuk menghormati orang yang lebih tua.
            Logat ini sebenarnya bukan hanya digunakan di Rembang saja kabupaten Pati,Blora,sebagian besar Kudus,serta perbatasan Blora dengan Grobogan masih menggunakan logat yang hamper sama dengan logat Rembang,dan diyakini logat em dan nem berasal dari Rembang dan menyebar ke daerah lain disekitarnya dan sampai sekarangpun masih lestari digunakan dalam bahasa sehari-hari yang membuat Rembang makin dikenal oleh daerah lain.
B.Tempat Wisata
1. Embung Lodan
 Terletak di wilayah kecamatan Sedan, dan berada di desa Lodan embung ini mempunyai luas sekitar 30 hektar, letaknya diantara bukit indah yang ditumbuhi pepohonan jati dan berada diareal milik Perhutani Sedan. Menurut warga setempat embung lodan sudah ada sejak zaman Belanda yang dulu hingga sekarang berfungsi sebagai pengairan untuk daerah kecamatan Sedan,Sale dan sekitarnya.
            Pada tahun 1970-an embung ini pernah jebol dan menimbulkan banyak kerusakan maupun korban jiwa dan merupakan salah satu peristiwa jebolnya waduk/embung terbesar dalam sejarah Indonesia.Perhatian pemkot Rembang sangat besar terhadap kelestarian alam maka pada tahun 2006 embung ini direhab total menjadi lebih cantik dan modern selesai pada tahun 2008 dengan menelan biaya ratusan milyar rupiah sebagian besar biayanya berasal dari bantuan pemerintah Jepang selebihnya bantuan dari pemerintah Indonesia, Pemda serta Pemkot Rembang.
            Sebenarnya Rembang mempunyai beberapa waduk namun yang paling besar yaitu embung lodan dan embung panohan. Jika anda ke kota Rembang tidak ada salahnya untuk mampir sejenak arahnya sekitar 30 km kearah timur kota Rembang pemandangan yang masih asri dan anda cukup membayar Rp.1000,- untuk sepeda motor dan Rp.2000,- untuk kendaraan roda empat. Uang ini dikelola oleh karang taruna desa setempat untuk perawatan desa dan fasilitas embung.
2. Taman Rekreasi Pantai Kartini (Dampo Awang Beach)
            Adalah tempat wisata paling populer di Kabupaten Rembang, terletak di sebelah kiri gedung bupati Rembang dan berada persis dijantung kota Rembang. Ditempat wisata ini terdapat kolam renang, kebun binatang mini, sarana untuk out bound, serta wisata pantai nan eksotis.
            Tempat wisata ini berubah total setelah pemkab Rembang memberikan hak swasta untuk mengelolanya. Tempatnya yang bagus nan asri dengan pepohonan yang rindang membuat tempat ini selalu ramai pengunjung terutama pada hari minggu dan hari-hari libur nasional, bahkan pengunjunganya banyak pula dari luar kabupaten Rembang.
3. Makam Pahlawan Nasional R.A Kartini
            Terletak kira-kira 25 km kearah selatan kota Rembang, terletak di desa Mantingan kecamatan Bulu, didirikan diatas tanah yang berada di perbukitan dekat dengan hutan jati mantingan. Selain makam ibu Kartini disini juga terdapat makam anggota kluarga lain seperti suami, anak serta kerabat lain. Sejumlah orang penting pernah berkunjung ke tempat ini seperti Bung Karno, Mantan presiden Soeharto, Ibu Tien Soeharto,Megawati, dan masih banyak lagi pejabat tinggi Negara yang pernah berkunjung ke tempat ini.Jika anda menginginkan cindera mata anda bisa membelinya dari pedagang yang ada di sekitar makam.Tempat ini ramai pada peringatan hari Kartini tanggal 21 April. Area pemakaman ini diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto pada tahun 1973.
4. Pasujudan Sunan Bonang
            Adalah tempat sunan Bonang mendirikan sebuah pondok sebagai tempat untuk berdakwah dan melakukan syiar agama Islam di Rembang dan sekitarnya. Ditempat ini juga terdapat sebuah batu besar dengan datar permukaan atasnya dan terdapat bekas telapak tangan serta kaki dan diyakini sebagai bekas ketika Sunan Bonang melakukan sholat diatas batu ini. Selain itu terdapat pula makam putri Campa yang konon ia adalah putri cantik keturunan cina yang jatuh cinta kepada Sunan Bonang dan bersedia masuk Islam berserta kedua pengawal setianya.
Setiap harinya tempat ini selalu ramai dengan peziarah dari seluruh jawa bahkan luar pulau. Pasujudan ini terletak diatas bukit kecil dekat pantai bonang di desa Bonang kecamatan Lasem. Kira-kira 4 km kearah timur kota lasem atau sekitar 15 km kearah timur kota Rembang.
5. Pantai Sluke dan Binangun Indah
            Kebanyakan aset wisata Rembang bertumpu pada sector kelautan karena memang terletak di pesisir utara jawa yang lebih tepatnta lagi terletak di pinggir Laut Jawa. Dan Rembang mempunyai motto “Wujudkan Rembang Kota Bahari”. Pantai Sluke sangat elok dengan karang di pinggirnya terketak persis dipinggir jalan pantura tepatnya di kecamatan sluke 17 km kearah timur kota Rembang. Dari pantai Sluke dan binangun indah anda bias menyaksikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU Sluke) yang merupakan distributor listrik Jawa-Bali, dalam waktu dekat pula akan didirikan Pelabuhan Nasional disini.
6.Wisata Alam Sumber Semen
            Terletak di kecamatan Sale kira kira 40 km kea rah selatan kota Rembang,disini anda bisa menyaksikan alam yang masih asli dengan hutan jati yang masih lebat serta terdapat pula satwa-satwa liar seperti kijang, merak, bahkan kera. selain itu anda juga bisa juga masuk kedalam gua yang berada di tengah hutan warga sekitar menyebutnya dengan Gua Rambut.

7.Wana Wisata Mantingan
            Terletak di desa Mantingan kecamatan Bulu dekat dengan perbatasan Blora menawarkan wisata alam dan kolam renang selain itu di dalam area wisata ini terdapat pula binatang hutan seperti kancil,kijang,kera dan merak.Cukup membayar Rp.5000,- anda bisa menikmati udara sejuk dalam hutan jati yang masih asri. Terletak kira-kira 27 km ke arah selatan kota Rembang.

C.Makanan Khas
1. Kaoya
            Makanan khas ini berasal dari kecamatan Gunem, Makanan ini boleh dibilang sangat unik yaitu terbuat dari kacang tunggak atau kacang hijau di goreng sangan (digoreng dengan menggunakan pasir cepu hingga agak gosong) kemudian ditumbuk atau di selep halus dan dicampur menggunakan gula pasir yang telah dihaluskan pula.
            Setelah itu dicetak dengan menggunakan daun lontar yang telah di bentuk seperti bunga yang mempunyai enam lubang dan dijejalkan di lubang tersebut hingga memadat. Rasanya sangat manis serta agak gurih. Namun sayang makanan ini sudah sangat jarang ditemui dan tergolong makanan yang hampir punah. Makanan ini hanya ada pada acara-acara tertentu seperti saat acara sedekah bumi,pernikahan,serta acara sunatan. Jika anda memakannya mungkin akan membuat anda “sereden” dan akan banyak minum air karena jika dimakam akan serasa menyangkut dan menempel di gigi serta tenggorokan anda namun itu merupakan sensasi dari makanan unik ini.
2. Dumbeg
            Makanan ini lebih unik lagi karena dicetak ke dalam wadah yang berbentuk mirip trompet kecil dari daun lontar. Mungkin jika anda yang melihatnya akan menyangka ini bukan makanan tetapi terompet kecil.
            Sebenarnya dumbeg hampir mirip dengan jenang, hanya saja dumbeg terbuat dari tepung beras atau ketan yang dimasak bersama gula pasir atau gula jawa serta santan selama 4 jam, dan di aduk-aduk hingga mengental,setelah mengental kemudian di tuangkan kedalam wadah lontar yang telah dibentuk seperti terompet kecil dan siap disajikan beserta wadah dari lontar tersebut.
            Makanan ini berasal dari Desa Polandhak kecamatan Pancur. Dumbeg jarang pula di jumpai pada hari-hari biasa sama seperti kaoya dumbeg hanya ada pada acara sedekah laut, sedekah bumi serta pada acara pernikahan atau sunatan.
3. Lontong Tuyuhan
Lontong opor ayam telah ada bersama masyarakat Indonesia sejak lama. Tiap daerah menciptakan variasi rasa dan seleranya masing-masing, tak terkecuali lontong tuyuhan, masakan khas Desa Tuyuhan.
Sajian lontong dari desa Tuyuhan kira-kira 13 km kearah timur kota Rembang Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, ini mirip dengan lontong opor ayam. Bedanya, kuah santan lebih kental dan pedas, menonjolkan perpaduan rasa kemiri dan cabe rawit.
Masakan itu dijumpai hampir di seluruh daerah Rembang. Namun, yang cita rasa dan suasananya khas hanya di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan di Desa Tuyuhan. Disebut lontong tuyuhan karena masakan itu berasal dari Desa Tuyuhan. Konon, resep lontong ini diwariskan turun-temurun para leluhur Desa Tuyuhan.
Penjual lontong tuyuhan yang di kompleks wisata kuliner Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan adalah Munzeri (51). Dia mengatakan, resep lontong tuyuhan diturunkan kepada kaum perempuan Desa Tuyuhan. Tak heran jika kaum pria hanya tahu cara memasak, tetapi tidak dapat memasaknya. Seolah-olah mereka ditakdirkan untuk menjual saja.
Kekhasan lontong tuyuhan dimulai dari bentuk lontongnya, yaitu berbungkus daun pisang dengan bentuk kerucut segitiga.Adapun cara memasak opor ayam hampir sama dengan memasak opor ayam umumnya. Bumbu-bumbu yang dibutuhkan pun mirip, antara lain bawang merah, bawang putih, lengkuas, kemiri, ketumbar, kencur, pala, dan kunyit.Agar mendapatkan kekhasan pada rasa, bumbu itu masih ditambah cabai merah yang ditumis sampai layu dan jahe. Dan rasa pedas ini memang terasa menonjok, berpadu dengan rasa gurih santan kental.
Sebagai peningkat aroma, ditambahkan pula salam dan serai. Masukkan santan encer, garam secukupnya, dan ayam hingga matang. Berikutnya, tuangkan santan kental dan masak sampai mendidih.”Untuk menambah gurihnya opor ayam, bisa ditambahkan taburan irisan bawang merah goreng,” kata Munzeri.
Angkring
Rata-rata para penjual lontong di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan berdagang sejak pukul 12.00 hingga 20.00, khusus warung Lontong Tuyuhan Munzeri tutup pukul 16.00.Warung milik Munzeri, seperti layaknya rata-rata warung lontong tuyuhan lain, bangkunya berupa dingklik atau kursi panjang terbuat dari kayu dan mejanya pun dari kayu yang bertaplak plastik berornamen bunga.
Tempat meracik lontong berbentuk angkringan pikul dari bambu dan rotan. Hal ini menambah kesan khas lontong tuyuhan.Sebelum menetap di sana, Munzeri memikul angkringan itu keliling kota Lasem. ”Kalau malam, saya meletakkan lampu teplok. Tak lupa saya membawa kendi air minum untuk pembeli di tepi-tepi jalan. Karena sudah menetap, lampu dan kendi itu tidak saya gunakan lagi,” kata Munzeri yang berjualan lontong tuyuhan sejak 31 tahun lalu.
Sejak 1977 hingga 1990, ia meneruskan tradisi Mbah Latmin menjual lontong keliling kota Lasem. Waktu itu, harga seporsi lontong Rp 50, sekarang Rp 7.000.Seiring dengan bertambahnya pelanggan dan prakarsa Pemerintah Kabupaten Rembang memusatkan penjualan.
4. Sirup Kawis/Kawista
Sirup buah Kawista Dewa Burung bikinan Ny M E Heriyati (76) merupakan produk home industry legendaris dari Rembang. Selama hampir 50 tahun, sirup kawista ini menjadi klangenan tersendiri bagi warga Rembang maupun pelancong yang sedang singgah di kota itu. Hambar rasanya jika telah mengunjungi Rembang, tapi belum membawa buah tangan sirup kawista itu.
Menilik jauh ke belakang, sekitar tahun 1952 Ny M E Heriyati yang mewarisi usaha perusahaan Limun Djago dari ayahnya Njo Tiam Kiem merasakan segarnya buah kawis yang banyak terdapat di sekitar tempat tinggalnya di Jalan Diponegoro Rembang. Tiba-tiba terpikir olehnya untuk meracik buah yang berasa sepet, manis, segar dan berbau agak menyengat itu untuk dijadikan bahan dasar pembuatan sirup yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Pemikirannya saat itu, buah tersebut bisa terus segar meski disimpan berhari-hari.
Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya dia berhasil menemukan cara membuat buah kawis menjadi esens bahan dasar pembuatan limun. Hanya saja, setelah dicampur dengan air tawar yang diperoleh di sekitar rumahnya, rasanya tidak seperti yang diharapkan. Baru setelah mencoba air dari Sendang Hajar di Desa Bulu, dia mendapatkan rasa seperti yang diinginkan. Selain permasalahan air, dia juga menggunakan bahan gula murni impor dan tidak memakai bahan kimia pabrik untuk menjaga rasa buah kawis saat diolah menjadi sirup.
Limun Kawis
Ny Tsuan Hwa, salah satu kemenakan Ny M E Heriyati yang kini turut mengelola perusahan limun dan sirup Kawista Dua Burung menceritakan hingga saat ini bahan-bahan racikan tersebut tetap dipertahankan. '' Meskipun kini telah banyak beredar pemanis buatan yang harganya lebih murah, namun kami tetap memakai gula pasir murni impor. Jika diganti dengan pemanis buatan, rasanya akan menjadi lain dan tidak enak saat diminum,'' katanya.
Dia menambahkan selain dibuat sirup, Ny M E Heriyati juga membuat limun dalam botol dengan rasa kawis. Limu n tersebut jika diminum rasanya tak kalah dari beberapa minuman soda bermerek luar negeri. '' Bahkan beberapa orang lebih senang minum limun kawis dibandingkan minuman soda bermerek luar negeri karena rasanya lebih enak,'' terangnya.
Meskipun perusahan Ny Herawati telah berusia 50 tahun lebih dan nama sirup Kawista Dewa Burung sudah terkenal luas, tidak membuat perusahan itu melebarkan usahanya ke daerah lain. Hingga saat ini, sirup khas ini hanya bisa didapatkan di Toko Djago Jalan Diponegoro Rembang dan Jalan Kayumas Jakarta. Untuk harga sirup dipatok harga Rp 13.000/botol. Sementara untuk satu limun berukuran botol soda kecil dipatok harga Rp 5000/botol. Tsuan Hwa mengaku tidak akan menjual sirup dan limun buah Kawista cap Dewa Burung di toko-toko lain.
4.Sayur Mrica (Kelo Mrico Ndas Manyung)
            Sayur ini sangat pedas cocok untuk anda yang sedang flu atau saat cuaca sangat dingin,maklum orang Rembang terbiasa dengan cuaca yang panas jadi kalau dingin banyak yang membuat alternative lain selain memakai jaket yaitu dengan membuat sayur mrico ndas manyung,sayur ini terbuat dari mrica di campur potongan cabai rawit,bawang merah,bawang putih,kunyit dan daun salam.Direbus bersama dengan kepala ikan manyung yaitu sejenis ikan laut yang menyerupai lele namun ukurannya lebih bersar selama kurang lebih 1 jam hingga mendidih agar daging ikannya lebih empuk.Rasanya yang sangat pedas dan super gurih akan membuat anda ketagihan jika memakan masakan ini.selain ikan manyung ikan lain yang bisa di masak yaitu ikan “anyaran” ikan yang baru di ambil dari laut yang masih segar.Dan masakan ini hanya ada di rembang utamannya sepanjang pesisir Rembang.
D. Tanaman Khas Rembang
Pohon Kawis/Kawista
Kawis alias kawista (Limonia acidissima), nama buah unik yang mungkin jarang diketahui oleh orang. Buah yang khas dengan aroma yang menusuk hidung dan warna daging buah yang coklat kehitaman. Bahkan apabila kita mendapatkan kawis yang benar-benar telah matang, warna daging buahnya akan hitam kelam.
Menurut Wikipedia, kawis termasuk pohon yang tahan banting. Buah Kawis mampu hidup di daerah dengan curah hujan rendah alias lahan kering, selain itu mampu bertahan pada tanah dengan salinitas yang tinggi. kawis juga dapat dimanfaatkan sebagai batang bawah dalam okulasi tanaman jeruk. Okulasi ini menghasilkan Kajer alias kawis jeruk.
Kawista (Limonia acidissima syn. Feronia limonia) adalah kerabat dekat maja dan masih termasuk dalam suku jeruk-jerukan (Rutaceae). Tumbuhan yang dimanfaatkan buahnya ini sudah jarang dijumpai meskipun sekarang beberapa daerah mulai mengembangkannya. Kawista relatif tahan kondisi buruk (kering atau tanah salin) dan tahan penyakit. Asalnya adalah dari India selatan hingga ke Asia Tenggara dan Jawa.
Kawista dapat digunakan sebagai batang bawah bagi jeruk, namun mempengaruhi rasa buah jeruk yang dihasilkan. Buah jeruk semacam ini dikenal sebagai “kajer” (dari “kawista” dan “jeruk”) dan bisa ditemui di Galis, Madura. Di Kabupaten Rembang dikembangkan sirup kawista. Orang Jawa menyebutnya kawis.
Menurut Sentra Informasi Iptek, Setiap 100 g bagian daging buah yang dapat dimakan mengandung: 74 g air, 8 g protein, 1,5 g lemak, 7,5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Dalam 100 g bagian biji yang dapat dimakan terkandung: 4 g air, 26 g protein, 27 g lemak, 3 5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Daging buah yang kering mengandung 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam-asam kalium, kalsium, dan besi. Kayu kawista berwarna putih kekuningan, keras, agak berat, dan berserat kasar, tetapi urat kayunya rapat dan dapat dipolis sampai berkilap.
Masyarakat Rembang tentu mengenal buah karena banyak terdapat pohon kawis di pekarangan rumah-rumah. Pohonnya tumbuh tinggi menjulang, bahkan kelewat tinggi. Pohon ini kebanyakan tumbuh liar, tetapi ada juga yang membudidayakan kawis. Sehingga sekarang sudah mulai dikenal di berbagai daerah di luar rembang.
Buah ini bisa diklaim sebagai buah asli Rembang, Jawa Tengah. Entah benar atau tidak, namun sangat wajar apabila buah ini bisa menyebar hingga ke daerah sekitarnya di pesisir utara Jawa seperti Pati dan Tuban.
Bagaimana cara memanen kawis? Sabar kuncinya. Kenapa? Buah yang siap konsumsi adalah buah yang telah benar-benar masak. Tanda buah yang telah masak sempurna adalah telah jatuh dari pohonnya. Ingat, syarat “telah jatuh dari pohonnya” adalah dengan cara alami. Jatuh dari ketinggian tidak berarti akan menurunkan kualitas buah ini. Kulit buah yang sangat keras membuat kawis tetap aman mendarat ke permukaan bumi.
Bagaimana cara menikmatinya? Gampang saja!
Ambil buah kawis, pegang erat, sempatkan menghirup aroma khas buah ini dengan mendekatkan pangkal buah ke hidung anda. Hirup dalam-dalam… Ahhh…
Setelah puas dengan aroma terapi kawis, segera cari permukaan lantai yang keras dan bersih. Dengan gerakan lambat namun bertenaga, hantamkan buah kawis ke lantai hingga terbelah menjadi dua bagian. Prakkk…. Hmmmm… Coklat kehitaman bahkan mungkin hitam legam daging buah kawis akan membelalakkan mata. Daging buah bercampur dengan sedikit biji dan serat daging siap untuk kita santap.
Untuk menambah sensasi rasa, biasanya saya menambahkan gula pasir beberapa sendok. Ya, tinggal kita aduk rata daging buah tersebut dengan gula pasir. Gak usah memakai piring! Lebih alami apabila makan langsung dari batok kulit buah kawis ituh.
Bagaimana dengan bijinya? Tekstur biji yang tidak keras, memungkinkan kita untuk mengunyahnya bersama dengan daging buah dan juga serat yang ada. Tidak ada rasa pahit sama sekali.
Habitat dan Penyebaran Kawista. Pohon Kawista tumbuh di daerah tropis dengan kondisi tanah yang kering. Tumbuhan penghasil buah ini merupakan tanaman dataran rendah yang mampu tumbuh hingga pada ketinggian 400 mdpl.
Kawista tumbuh alami di daerah Sri Lanka, India, Myanmar, dan Indocina, kemudian menyebar hingga ke Malaysia dan Indonesia. Pohon Kawista juga sudah diintrodusir ke Amerika. Di Indonesia, Kawista tumbuh alami di daerah pesisir utara pulau Jawa.
Pemanfaatan Kawista. Di Indonesia pohon Kawista belum banyak dibudidayakan dan sekedar tumbuh alami secara liar di pekarangan dan kebun. Padahal dibeberapa negara seperti Sri Lanka, Kawista telah dibudidayakan bahkan buah Kawista yang diolah menjadi menjadi krim kawista menjadi salah satu komoditas eksport.
Buah Kawista dapat dimakan langsung. Atau diolah menjadi berbagai komoditas seperti sirup dan dodol. Selain itu Buah kawista yang matang dipercaya mampu menjadi obat menurunkan panas dan sakit perut, serta dimanfaatkan sebagai tonikum.
Kulit batang pohon Kawista dipercaya juga dapat menjadi campuran jamu untuk mengatasi haid yang berlebihan, gangguan hati, mengatasi mual-mual, bahkan untuk mengobati luka akibat gigitan serangga.
Sayangnya tidak banyak yang mengenal dan membudidayakan pohon Kawista. Pohon dan buah Kawista ini memang kalah populer dengan aneka buah lainnya, tetapi bukankah ini juga termasuk salah satu kekayaan yang menunggu eksplorasi kita. Sri Langka saja mampu mengekspor buah ini kenapa kita tidak?
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Sapindales; Famili: Rutaceae; Genus: Limonia; Spesies: Limonia acidissima; Nama binomial Limonia acidissima





Daftar Pustaka
Kompas,Minggu 25 Mei 2006
Suara Merdeka,Kamis 7 Juli 2005
Wikipedia.com/buah kawis
Arsip Pribadi S. A Atmadja



           























Monday, 4 October 2010

Komunisme Uni Soviet

Sejarah Kesatuan Soviet


Kejatuhan Empayar Rusia pada Mac 1917, menandakan titik permulaan Kesatuan Republik Sosialis Soviet. Revolusi ini dicetus oleh rakyat Petrograd (kini dipanggil Leningrad) yang bangun menentang regim Tsar yang zalim dan meneruskan tentangan mereka sehinggalah Tsar Nicholas II turun takhta. Apabila kerajaan beliau tumbang, kuasanya telah diambilalih oleh perwakilan pilihan rakyat Duma, yang membentuk sebuah kerajaan sementara. Namun demikian pada November 1917 kerajaan ini pula telah dijatuhkan oleh golongan Bolshevik, dibawah pimpinan Vladimir I. Lenin. Golongan Bolshevik (yang memanggil diri mereka komunis pada 1918) telah berjaya menewaskan Bolshevik selepas perang saudara yang berlarutan selama tiga tahun (1918-21). Mereka mengambil kuasa secara rasminya pada Disember 1922 dan menubuhkan Kesatuan Republik Sosialis Soviet (Kesatuan Soviet), yang merangkumi kesemua wilayah jajahan bekas Empayar Rusia. Kerajaan yang baru ini telah mengharamkan semua organisasi politik dan melancarkan pemerintahan satu parti one-party rule, di mana kerajaan pusat mengawal semua aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya rakyatnya. Lenin, sebagai ketua parti Komunis, telah ditabalkan sebagai pemerintah pertama negara ini.

Selepas kematian Lenin pada 1924, beliau digantikan oleh Joseph V. Stalin. Stalin merupakan seorang yang jauh lebih kejam dari Lenin dan beliau telah memaksa pengindustrian serta pertanian secara kolektif secara besar-besaran di negara ini. Disamping itu, banyak syarikat swasta dan kawasan pertanian telah dirampas oleh kerajaannnya. Ini telah mengakibatkan rakyatnya hidup dalam penderitaan dan sengsara. Berjuta-juta rakyatnya telah dibunuh, ditahan atau dibiarkan kebuluran. Selain itu beliau telah membunuh para pembangkang kerajaan. Oleh itu era pemerintahan beliau dikenali sebagai the Great Terror. Namun demikian, polisi Stalin telah berjaya dan wilayah-wilayah Soviet membangun dengan amat pesatnya, walaupun pembangunan adalah lebih kepada industri berat dan ketenteraan dan bukannya berdasarkan kehendak pengguna. Stalin yakin pembangunan ekonomi yang pesat adalah mustahak untuk survival Kesatuan Soviet.

Vladimir Lenin

Beliau begitu bimbang dengan peperangan dan serangan pihak Jerman. Oleh itu satu perjanjian telah ditandatangani pada 1939 iaitu Nazi-Soviet Nonaggression Pact, yang membolehkan kerajaanya mengambil bahagian timur Poland (Ukraine barat), wilayah-wilayah Baltik, dan Bessarabia. Walaupun begitu, perjanjian ini telah dicabuli oleh pihak Nazi yang menceroboh Kesatuan Soviet bermula pada Jun 1941. Selepas kekalahan demi kekalahan di tangan tentera Jerman, Tentera Merah the Red Army akhirnya berjaya membendung kemaraan Jerman pada 1943, dan pada 1945, menduduki sebahagian besar Eropah Timur termasuk sebahagian Jerman (iaitu Jerman Timur). Walaupun lebih 20 juta rakyat Soviet terkorban akibat Perang Dunia II, penduduk di seluruh dunia gerun dengan kehebatan bala tentera Soviet.


Era pasca-perang menyaksikan Kesatuan Soviet mengubah pendudukan militarinya di Eropah Timur kepada dominasi politik dan ekonomi, dimana regim-regim pro-komunis di bawah pantauan Moscow telah diangkat sebagai pemerintah. Selain itu, kerajaan komunis Soviet telah berusaha untuk mengembangkan sayapnya ke negara-negara luar termasuk negara jirannya seperti Finland dan Afghanistan. Ini telah menerima reaksi negatif dari negara-negara barat, lalu tercetuslah perang yang dipanggil Perang Dingin. Dalam masa yang sama, Stalin terpaksa membina semula ekonomi Soviet yang telah runtuh akibat perang, sambil meneruskan polisi lamanya iaitu membangunkan industri berat dan ketenteraan, serta menindas para pembangkang dan melanggar hak asasi manusia.

Selepas kematian Stalin pada 1953, Nikita S. Khrushchev beransur-ansur menjadi ketua Soviet yang dominan. Beliau cuba membawa kelainan dengan membidas cara pemerintahan Stalin yang mengutamakan kezaliman dan penindasan. Walaupun begitu, beliau meneruskan polisi luar bersifat konfrontasi terhadap negara Barat. Era beliau dikenali dengan perlumbaan senjata nuklear dan penjelajahan angkasa lepas. Walaupun begitu penglibatannya dalam krisis peluru berpandu Cuba, yang hampir-hampir mencetuskan peperangan nuklear, telah menjadi punca kejatuhannya sebagai ketua parti dan ketua negara pada 1964. Pengganti Kruschev ialah Leonid I. Brezhnev yang meneruskan polisinya iaitu détente dengan negara Barat and penumpuan kepada perindustrian berat dan ketenteraan.

Selepas kematian Brezhnev pada 1982, sistem politik, ekonomi dan budaya negara telah dikawal oleh birokrasi yang konservatif, dan berusia. Pengganti beliau, Iurii V. Andropov dan Konstantin U. Chernenko, memegang kuasa dalam waktu yang sangat singkat dan tidak membawa banyak perubahan. Sewaktu Gorbachev dipilih sebagai setiausaha agung CPSU dan ketua negara Soviet pada 1985, kemelut dalam sistem sosialis Soviet telah menjadi semakin teruk. Akibatnya, Gorbachev terpaksa mengumumkan perubahan secara mendadak untuk membangunkan semula negara, dan beliau memulakan beberapa siri program pembaharuan yang dipanggil perestroika, glasnost, dan demokratizatsiia.

Namun demikian, usaha beliau untuk mengadakan reformasi politik dan ekonomi tidak mencapai matlamatnya. Malah, ia telah mencetuskan huru-hara dan kemelut politik di peringkat nasional. Ditambah pula dengan masalah ekonomi yang masih berlarutan. Disamping itu beberapa bangsa di dalam kesatuan ini telah mendesak kerajaan untuk memberi wilayah mereka lebih autonomi politik dan ekonomi; Bahkan ada jua yang mahukan kemerdekaan sepenuhnya dari Kesatuan Soviet. Pergolakan antara wilayah yang telah dikawal oleh regim Soviet selama ini telah meletus dan ramai orang telah terkorban. Sistem sosialis autoritarian menjadi semakin goyah dan agak lambat bertindak untuk mengatasi krisis sosial tersebut. Pada 1990an, dasar perestroika Gorbachev telah gagal membawa pemulihan ekonomi kepada rakyat, manakala glasnost' dan demokratizatsiia hanya melonggarkan kawalan regim terhadap rakyatnya.

Satu referendum untuk pengekalan USSR telah diadakan pada 17 Mac, 1991, dengan populasi mengundi untuk pengekalan kesatuan berkenaan di kebanyakan republik. Referendum berkenaan telah memberikan Gorbachev satu kelebihan yang kecil, dan pada musim panas 1991 satu perjanjian kesatuan telah dirangka dan dipersetujui oleh kebanyakan republik yang mana ia akan menukarkan Kesatuan Republik Sosialis Soviet kepada federal yang lebih longgar. Tandatangan Perjanjian itu bagaimanapun diganggu oleh satu rampasan kuasa bulan Ogos, - satu cubaan rampasan kuasa terhadap Mikhail Gorbachev oleh ahli konservatif Parti Kommunis, merujuk kepada "Hardliners" media Barat. Selepas rampasan kuasa itu ditumpaskan , Yeltsin menjadi wira manakala kuasa Gorbachev telah berkurang dengan banyaknya. Perimbangan kuasa sekarang lebih memihak kepada republik-republik berkenaan. Latvia, Estonia and Lithuania telah diisytiharkan merdeka, manakala 12 republik yang lain menyambung kembali perbincangan tentang model kesatuan yang lebih longgar lagi. Pada 8 December 1991, presiden-presiden Russia, Ukraine dan Belarus telah menandatangani Belavezha Accords yang mengisytiharkan kesatuan berkenaan dibubarkan dan Komenwel Negara-negara Merdeka ditubuhkan untuk menggantikannya. Sementara ramai yang masih tertanya-tanya siapa yang mempunyai kuasa untuk membubarkan kesatuan berkenaan, pada 25 December 1991, Gorbachev meletakkan jawatan president USSR dan memberikan kuasa kepada Boris Yeltsin. Hari berikutnya "Supreme Soviet", badan kerajaan tertinggi Kesatuan Soviet, membubarkan dirinya. Ini secara umumnya diisyhtiharkan sebagai rasmi, pembubaran akhir USSR sebagai satu kerajaan yang berfungsi. Kebanyakan organisasi seperti Tentera Merah dan angkatan militia menyambung tugas mereka tetapi akhirnya dibubarkan atau diserap ke dalam negara-negara merdeka yang baru.
Kategori: Kesatuan Soviet